PT IMN Konsel
Warga Desa Wonua Kongga, Kecamatan Lainea, Konsel. melakukan demonstrasi dengan menutup jalur masuk PT IMN ke Area Tambang. (KABARKENDARI/Egi

Kabarkendari.com – Warga Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, memblokade jalan masuk perusahaan pertambangan PT Integrah Mining Nusantara (IMN). Aksi ini sudah berlangsung sejak Selasa 04 Oktober 2016, dilakukan sebagai bentuk protes masyarakat terhadap perusahaan PT IMN yang tidak merealisasikan dana Community Development (Comdev).

Blokade jalan ini dilakukan tepat di Desa Wonua Kongga, Kecamatan Lainea, Konsel. Masyarakat melakukan demonstrasi dengan menutup jalur masuk perusahaan yang mereka anggap jalur itu merupakan jalan masyarakat yang digunakan perusahaan. Masyarakat mau membuka blokade asalkan tuntutan mereka, yaitu, PT IMN membayarkan dana Comdev sebesar Rp 9,5 miliar.

“Anggaran ini sudah sesuai dengan Undang-Undang Mineral dan Batu Bara. Perhitungannya ditentukan sesuai hasil pengapalan perusahaan. PT IMN sudah melakukan pengapalan sebanyak 38 kali namun tidak pernah membayarkan dana Comdev ini,” terang perwakilan masyarakat yang juga Kepala Desa Wonua Kongga, La Ode Sulema, melalui selulernya, Kamis 06 Oktober 2016.

Menurut La Ode Sulema, masalah ini sudah dibawa ke ranah hukum. Bahkan masyarakat sudah menunjuk Masri Said sebagai pengacara dalam ini. Masri Said saat ditemui Kabarkendari.com, mengungkapkan dirinya mengawal masyarakat dengan menggugat PT IMN di Pengadilan Negeri Andoolo.

“Sidang pertama sudah, kami menggugat agar PT IMN ini membayarkan kewajibannya dalam hal pemberian dana Comdev kepada masyarakat. Dana ini diberikan melalui pemerintah setempat yakni kepala desa,” katanya.

Menurut Masri juga membenarkan, masyarakat Desa Wonua Kongga saat ini sedang memblokade jalan di wilayah jalur masuk PT IMN. Kata Mastri, masalah ini menjadi masalah serius untuk segera dituntaskan.

“Sudah beberapa tahun PT IMN ini tidak membayarkan dana Comdev. Tapi perusahaan terus menggunakan fasilitas masyarakat. Makanya masyarakat juga menggugat dan menuntut haknya,” jelas Masri di salah satu warung kopi di Kendari.

Penulis : Kamarudin
Editor : Jumaddin Arif Tobarani

Facebook Comments
loading...