Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Indonesia IPPMIK Konawe mengendus adanya Mobilisasi Pekerja Asing asal Tiongkok melalui Kontainer oleh PT. Virtue Dragon Indonesia
Perwakilan IPPMIK Konawe berorasi saat menggelar unjuk rasa di gedung DPRD Sultra, Selasa 19 juli 2016. Mahasiswa Konawe mengendus adanya dugaan Mobilisasi Pekerja Asing asal Tiongkok yang diselundupkan melalui Kontainer oleh PT. Virtue Dragon Indonesia (KABARKENDARI/Temon)

KabarKendari.com- General Manager PT Virtue Dragon Nikel Indonesia, Rudi Rusmadi, membantah tudingan mahasiswa Konawe yang menyebut pihaknya melakukan mobilisasi tenaga kerja asing melalui kontainer.

Baca juga : Mahasiswa Konawe Endus Mobilisasi Pekerja Asal Tiongkok Melalui Kontainer

Menurut Rudi, tidak ada satu pun tenaga kerja asing yang masuk melalui jalur laut apalagi menggunakan kontainer.

“Itu isu berlebihan. Seluruh tenaga kerja asing kita, melalui jalur benar, melalui imigrasi, udara dan masuk melalui Kendari,” jelas Rudi saat ditemui di Kendari, Rabu 20 Juli 2016.

Rudi juga membantah adanya isu bahwa 50 tenaga kerja asing asal Tiongkok datang menggunakan pesawat Garuda sehari setelah lebaran. Menurutnya, tidak ada pegawainya baik dari lokal maupun asing yang datang di hari itu.

“Itu juga tidak benar. Jadi dapat saya katakan rumor yang beredar tidak benar dan kami bisa buktikan,” tegasnya.

Ia menyebut, ada sekitar 200-an orang tenaga kerja asing yang didatangkan dari Tiongkok untuk pembangunan smelter di Morosi. Menurutnya, mereka sengaja didatangkan karena berkaitan dengan pekerjaan yang bersifat teknis.

“Mereka ini bekerja hanya untuk sebatas pembangunan smelter. Mereka didatangkan oleh kontraktornya,” paparnya.

Rudi menjelaskan, pembangunan smelter ini bersifat teknis dan tidak bisa dikerjakan oleh pekerja lokal. Terlebih, pembangunan smelter telah dikejar waktu deadline. Harusnya, smelter sudah beroperasi sejak Juni kemarin, namun banyaknya masalah yang dihadapi hingga saat ini belum bisa jalan.

“Kita diuber dengan waktu. Selain itu, kita datangkan TKA ini karena permasalahan bahasa. Kebanyakan, bahan yang masuk dari Cina. Sehingga, kontraktor yang bangun ini smelter adalah kontraktor dari sana,” urai Rudi.

Menurut dia, seluruh TKA yang masuk tidak selamanya ada di Sultra. Sebab, masing-masing ditangani oleh satu kontraktor dengan satu pekerjaan.

“Bila pekerjaannya sudah selesai, maka mereka kembali lagi. Ini hanya pekerjaan pembangunan smelter saja sebenarnya. Kita belum beroperasi,” katanya.

Khusus tenaga kerja lokal, kata Rudi, mereka tetap akan dilibatkan. Namun, mereka juga ditangani oleh kontraktor lain yang mengerjakan hal yang tidak teknis.

Penulis: Temon
Editor : Zainal A. Ishaq

Facebook Comments
loading...