Kemiskinan Kendari
Ati, perempuan paruh baya merawat ibunya yang menderita stroke di Kemaraya, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin 18 Juli 2016. Ati berharap dapat segera membawa ibunya berobat ke rumah sakit dan bermimpi memiliki rumah layak huni seperti para tetangganya. (KABARKENDARI/Suwarjono).

KabarKendari.Com- Ati, perempuan berusia 54 Tahun terus berjuang melawan penyakit batu ginjal dan asma yang terus menggerogoti tubuhnya. Ati tidak sendiri. Sehari-hari ia ditemani sang bunda, Yuliana (75 tahun) yang juga tengah bertahan hidup melawan stroke yang dideritanya.

Derita keduanya tidak sampai disitu. Kemiskinan menambah sesak batin kedua perempuan malang itu. Belum lagi keduanya harus menjalani hari-hari yang sulit dari sebuah gubuk reot yang berdiri rapuh diatas tanah sewaan.

Ati dan Yuliana tercatat sebagai warga Kemaraya, Kota kendari, Sulawesi Tenggara. Derita Ati tak melunturkan cinta kasihnya pada sang bunda. Ia bertekad merawat Yuliana dengan segala daya.

“Saya berjuang untuk ibu kandung dulu. Setelah itu baru saya untuk mengeluarkan sisa tulang dalam kandungan,” ucapnya berusaha tegar.

Riwayat penyakit Ati sendiri bermula saat dirinya masih hidup bersama dengan suami. Kala itu mengandung anak berusia enam bulan. Tak disangka, janin dalam perutnya hilang seketika.

Oleh tim medis Rumah Sakit Umum Daerah Sulawesi Tenggara, janin tersebut rupanya masih ada karena tulang sang jabang bayi keluar bersama air seninya selama berbulan-bulan.

“Badan saya bengkak karena setiap kencing serasa seperti melahirkan,” katanya, sembari mengurus ibu kandungnya yang tergeletak dilantai rumah.

Perempuan yang berdomisili di RT 21 RW 10 Kelurahan Kemaraya ini mengaku ingin sekali berobat ke rumah sakit. Namun apa daya biaya menjadi penghalang.

“Seandainya ada uangku, selain ingin berobat ke rumah sakit, saya juga bermimpi punya rumah layak huni seperti para tetangga,” Ati berandai.

Rumah atau lebih tepatnya disebut gubuk yang ditinggali Ati dan ibunya memang memiriskan hati yang melihatnya. Keseluruhan bangunan memiliki luas 5×6 meter. Sementara dinding terbuat dari dipan. Jika hujan tiba, air dengan leluasa menggenangi seisi rumah karena atap yang menaungi terbuat seng bekas.

Penulis: Gendis

Editor: Zainal A. Ishaq

Facebook Comments
loading...