operasi sikat anoa 2016
Razia dalam operasi Sikat Anoa 2016 yang menyasar tempat hiburan malam di Kendari , Sabtu 12 November 2016. (KABARKENDARI/EGI)

Kabarkendari.com – Menjamurnya tempat hiburan malam (THM) di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, menyimpan cerita tersendiri di kalangan wanita penghibur. Aroma persaingan antara pekerja lokal dengan pekerja pendatang menjadi bumbu penyedapnya.

Dari seratusan THM di Kota Kendari, 80 persen diantaranya mempekerjakan wanita penghibur yang sengaja didatangkan dari Kota Kembang Bandung, Kota Hujan Bogor dan Kota Pahlawan Surabaya. Setiap THM mempekerjakan 15 wanita penghibur dari tiga kota tersebut.

Nanda misalnya. Dara berkulit putih ini mengaku direkrut dari seorang agen. Sebuah perusahaan THM menawarinya bekerja di Kota Kendari. Ia pun setuju mengikat kontrak tahun 2016 lalu.

“Dijemput sama mami dan manager tempat kami kerja. Kami memang sudah tahu hadir di Kendari untuk kerja seperti ini,” kata Nanda sembari meminta tempat kerjanya tidak disebutkan.

Wanita asal Surabaya ini mengungkapkan sebelum bekerja telah menuntaskan urusan honor.

“Memang sudah bilang sejak awalnya kalau kerjanya layani pengunjung pria. Kalau ke Kendari itu kerjanya seperti ini. Tapi kami harus teken kontrak dulu. Waktunya berapa bulan dan gajinya berapa. Kalau kami disini enam bulan,” katanya.

Nanda mengaku tak punya pilihan setelah lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, Dolly, digusur oleh Walikota Surabaya, Risma.

Seorang wanita penghibur lain bernama Lita, asal Kota Bandung, mengatakan selama bekerja di Kota Lulo mereka selalu dipisahkan dengan pekerja lokal.

“Kamu bisa lihat kan Bandung dan Bekasi disini. Kendari disebelah sana. Harus dipisah biar bisa ditahu. Kalau kami disini tidak hanya Surabaya ada juga Bekasi. Paling sering kami yang dipesan,” katanya.

Lita mengungkapkan jika seorang sahabat seprofesinya justru sengaja datang mengadu nasib di Kendari.

“Dia pekerja Dolly. Waktu Dolly digusur dia langsung ke Kendari. Kami memang kenalnya udah lama sih,” katanya sembari mengarahkan telunjuk ke arah sahabtanya itu.

Sekeretaris Asosiasi Rumah Makan Karaoke dan Pub (Arokap), yang pernah menjabat meneger di THM Coyotes Kendari, mengakui penggunaan wanita penghibur marak di Kota Kendari.

“Tidak hanya Pulau Jawa, soal penggunaan wanita asal Jawa ini memang karena banyak pengunjung dan tamu yang lebih suka wanita asal Jawa. Garis besarnya seperti itulah,” kata Arifan, Rabu 25 Januari 2017.

Arifan mengatakan pernah memperkerjakan tenaga kerja lokal, namun jarang karena kinerjanya masih kurang diminati oleh pengunjung. Menurutnya, hal ini bukan karena perbedaan kerja atau profesionalitas menjadi wanita penghibur, melainkan karena kurang diminati oleh pengunjung.

“Tidak ada perbedaan sebenarnya, hanya kami mengikuti minat dari pengunjung atau tamu saja,” jelasnya.

Soal kedatangan mereka, kata Arifan, memang diatur oleh agen. Namun ada juga yang disambangi langsung oleh perusahaan.

Soal upah kerja katanya sudah diatur dalam kontrak kerja bersama. Sehingga pekerja tidak bisa dimanfaatkan oleh agen.

“Ada yang menggunakan agent dan ada juga yang tidak. Soal upah sudah diatur dalam kontrak itu. Soal jumlahnya ini bocoran yah Rp 5 juta perorang,” katanya.

Penulis: Kamarudin
Editor: Zainal A. Ishaq

Facebook Comments
loading...