OJK Sultra
Achmad Zaelani (kanan) didampingi Kepala Sub bagian Pengawasan Bank OJK Sultra, Amiruddin Muhidu. (KABARKENDARI/KASMAN)

Kabarkendari.com – Sejak Januari hingga Agustus 2016, Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Sulawesi Tenggara mencatat sudah menerima 19 laporan konsumen dalam sektor jasa keuangan, yang terdiri dari pemberian dan penerimaan informasi sebanyak 15, pengaduan sebanyak empat laporan.

Hal itu diungkapkan Staf Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Provinsi Sultra, Achmad Zaelani, Selasa 13 September 2016.

Sementara pada tahun 2015, kata Zaelani, pihaknya menerima 29 laporan, terdiri dari penerimaan dan pemberian informasi sebanyak 17 laporan, sedang pengaduan berjumlah 12.

“Jadi, ada tiga pelayanan konsumen yang ada di OJK. Pertama, penerimaan informasi, kedua pemberian informasi, dan ketiga mekanisme penerimaan pengaduan,” ujar Zaelani.

Zaelani membeberkan, dari tiga sektor jasa keuangan yakni perbankan, industri keuangan non bank dan pasar modal, yang paling banyak diadukan itu adalah sektor perbankan. Sebab, perbankan ini masih mendominasi bidang jasa keuangan di Sultra.

“Biasanya kalau di perbankan itu pengaduannya seputar rekturisasi kredit, lelang jaminan, dan pengenaan denda finalti pelunasan,” katanya.

Ada juga sektor finance, namun belum begitu marak atau jumlahnya masih sedikit. Misalnya, pengaduan setelah lunas tapi belum diberikan BPKB-nya dan penarikan jaminan lelang.

Masih kata Zaelani, setelah ada pengaduan, OJK mengambil langkah sesuai yang diatur dalam mekanisme pengaduan, yakni, melakukan verifikasi dan klarifikasi, dengan cara mengundang kedua belah pihak.

Selain itu, OJK juga telah menginisiasi Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa atau LAPS untuk memediasi konsumen dengan lembaga jasa keuangan.

“Tapi memang LAPS ini belum ada di Sultra baru beberapa wilayah di Indonesia saja yang ada, perlahan-lahan akan dibentuk di seluruh daerah,” tuntasnya.

Penulis : La Ode Kasman
Editor   : Jumaddin Arif Tobarani

Facebook Comments
loading...