warga bende mengadu ke dprd sultra
Tahrir Tasruddin. (KABARKENDARI/KASMAN)

Kabarkendari.com – Ketua Komisi III DPRD Sulawesi Tenggara, Tahrir Tasruddin dilaporkan ke Badan Kehormatan dewan setelah menampar salah seorang stafnya bernama Alfian Syahputra.

Pria yang akrab disapa Pian ini mengatakan masalah ini bermula ketika rapat paripurna hari ulang tahun Konawe, di Unaaha. Rapat tersebut sedianya dihadiri oleh Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Saleh dan Ketua Komisi III Tahrir Tasruddin. Hanya saja Rahman Saleh berhalangan hadir dan merekomendasikan kepada Syamsul Ibrahim untuk mewakilinya.

Melalui surat resmi dari dewan, Alfian yang juga sebagai protokoler ketua, langsung mendampingi Syamsul Ibrahim.

“Namun, pada saat itu pak Syamsul masih di perjalanan. Sementara pak Tahrir sudah tiba dan langsung duduk di kursi yang ditempati pak Syamsul Ibrahim yang mewakili ketua DPRD,” jelasnya.

Saat Syamsul tiba Alfian lantas berisiatif untuk menyampaikan ke Tahrir bahwa kursi yang diduduki itu bukan tempatnya. Kursi Tahrir telah disiapkan di baris kedua.

“Saya sampaikan secara sopan, tapi tiba tiba dia pukul pipi saya. Katanya, bodoh kamu, bodoh, bodoh,” kata Alfian menirukan ucapan Tahrir.

Karena merasa bersalah, Alfian mencoba minta maaf kepada Tahrir. Bukannya dimaafkan, Tahrir kembali melayangkan telapak tangannya sebanyak dua kali.

“Dia tampar saya sebanyak dua kali. Disitu ada banyak orang di depan umum. Ada juga staf lain yang saksikan,” katanya.

Keberatan dengan perbuatan Tahrir, Alfian langsung melapor ke atasannya, Kabag Persidangan, Protokoler dan Humas DPRD Sultra, Robert Piter Raru.

“Keberatan saya serahkan ke pimpinan saya soal masalah ini. Saya serahkan sepenuhnya kepada atasan saya seperti apa ditangani kasus ini. Yang jelas, saya keberatan,” tegas Alfian, Senin 6 Maret 2017.

Kabag Persidangan, Protokoler dan Humas DPRD Sultra, Robert Piter Raru yang dikonfirmasi terkait masalah ini juga menyatakan keberatan. Dia juga mengaku akan memproses kasus ini di Badan Kehormatan.

“Kita akan laporkan ke BK. Karena ini sudah tidak manusiawi lagi,” katanya.

Robert mengetahui kasus ini dari Tahrir sendiri. Dari pengakuan Tahrir, menyebut Pian tidak profesional dalam melaksanakan tugasnya.

“Katanya Tahrir, Pian menarik pada saat diminta pindah ke belakang. Namun, tidak lama pak Amal telpon saya kalau Pian telah ditampeleng oleh Tahrir. Di situ, saya langsung telpon balik pak Tahrir. Saya langsung tanya kenapa kita tampeleng staf saya,” jelasnya.

“Kalau pun Pian salah, harusnya tidak ditampeleng. Cukup diingatkan saja. Sebagai atasan kami sangat keberatan,” sesalnya.

Tahrir Tasruddin sendiri mengakui perbuatannya. Ia mengaku terpaksa menampar Pian karena kesal dipindahkan di barisan belakang saat siding paripurna berlangsung.

“Kalau saya tidak tampeleng, berarti saya bencong,” ujarnya tanpa merasa bersalah.

Tahrir juga mengaku tidak takut jika dilaporkan ke BK atau pun di polisi.

“Silahkan saja melapor, saya tidak masalah,” katanya.

Penulis: La Ode Pandi Sartiman
Editor: Zainal A. Ishaq

Facebook Comments
loading...