prof barlian
Prof Barlian di acara “Zayat-Syahriah Mendengar Pakar” di Warung Kopi Kita, Rabu 12 Oktober 2016.

Kabarkendari.com – Pengamat pendidikan Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari Prof Barlian menyebut, kampanye pendidikan gratis hanya menjadi jualan politik para calon. Menurutnya, di negara berkembang manapun tidak ada namanya pendidikan gratis.

“Itu tidak benar. Hanya jadi jualan politik saja para calon. Walaupun negara sudah mampu, tapi tidak mungkin menggratiskan pendidikan. Pendidikan gratis hanya enak di omongan saja,” ungkap Barlian saat memberikan pandangan di acara “Zayat-Syahriah Mendengar Pakar” di Warung Kopi Kita, Rabu 12 Oktober 2016.

Barlian mengaku, Pilkada hampir mirip dengan Pil KB. “Kalau Pilkada, sudah jadi langsung lupa. Kalau Pil KB, kalau lupa langsung jadi,” guyonnya.

Menurutnya, pendidikan sangat penting dalam memperbaiki masa depan bangsa. Negara yang kuat, tinggal dilihat dari kualitas sumber daya manusianya.

“Yang perlu dibangun adalah karakter dan SDM. Singapura tidak punya sumber daya alam tapi besar. Karena, mereka mengedepankan karakter dan SDM,” paparnya.

Dia juga mengingatkan Zayat-Syahriah untuk menuntaskan permasalahan pendidikan di Kota Kendari. Sebab, banyak fakta yang menyebutkan bahwa anak mendaftar masuk sekolah harus disertai bukti pembayaran PBB oleh orang tuanya.

BACA JUGA: Derik-Suri Siap Jadi Pelayan Masyarakat, Bukan Dilayani

“Tidak ada hubungannya antara PBB dan pendidikan anak. Anak juga jangan diseleksi pada saat masuk mendaftar di SD. Karena kemampuannya belum maksimal,” jelasnya.

Dia juga mencium aroma tidak sedap tentang les privat dilakukan guru. Les dilakuan di rumah orang kaya, sehingga orang miskin tidak diikutkan.

“Jangan ada kastanisasi dalam pendidikan. Saya juga ingatkan jangan rajin mutasi kepada guru karena tidak pilih bapak,” ujarnya.

Barlian ikut menyarankan agar bagi pejabat di sekitar untuk tidak melakukan pungutan kepada calon pegawai negeri sipil bagi guru.

“Kebanyakan di sekeliling pejabat yang cari uang. Ini yang harus diselesaikan,” tekannya.

Terakhir, dia berpesan agar bila terpilih jadi wali kota Kendari, Derik tidak alergi dengan demo mahasiswa. Sebab, demonstrasi itu bagian dari pengawalan kebijakan pemerintah.

“Menurut Hutington, demo mahasiswa itu bentuk perlawanan abadi terhadap pemerintahan yang zalim,” katanya.

Penulis: La Ode Pandi Sartiman
Editor: Jumaddin Arif Tobarani

Facebook Comments
loading...