Zulhilda Nurwulan, S.Pd
Zulhilda Nurwulan, S.Pd

Oleh : Zulhilda Nurwulan, S.Pd
(Guru SMPIT Al-Qalam Kendari)

Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya (users) bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum, dan dunia virtual (Wikipedia) . Sejatinya, kehadiran media sosisal ditengah-tengah masyarakat menjadi penolong bagi setiap individu dalam beraktifitas, dimulai dari urusan sekolah hingga pekerjaan kantoran. Segala masalah ataupun kabar berita akan dengan mudah ditemukan dimedia sosial. Menggunakan media sosial dalam kehidupan sehari-hari akan memberikan dampak yang bervariasi baik dari segi positif maupun negative. Jika dipandang dari segi positif, seharusnya kehadiran media sosial akan memberikan dampak yang baik dikarenakan keberadaannya akan memudahkan setiap orang dalam menjangkau dunia. Dalam hal ini, setiap orang akan dengan mudah mengakses berbagai kejadian-kejadian yang ada diseluruh penjuru dunia. Dari dunia pendidikan, para siswa dan siswi, guru, mahasiswa, maupun dosen akan sangat terbantu dengan adanya media sosial dalam rangka menyediakan perangkat pembelajaran maupun menyelesaikan tugas-tugas sekolah dan kuliah.

Akan tetapi, dewasa ini penggunaan media sosial ditengah masyarakat tidak sesempit sekedar menyelesaikan tugas maupun pekerjaan kantor, kebanyakan dari penggunaan sosial media malah memberikan dampak yang negative bagi pengguna (user) nya.

Sosial Media Sebagai Alat Pemicu Kejahatan

Maraknya kejahatan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat tidak jarang disebabkan karena penyalahgunaan dari media sosial. Kurang bijaksananya seseorang dalam menggunakan media sosial menjadi salah satu pemicu hadirnya kejahatan ditengah-tengah masyarakat. Kejahatan yang disebabkan oleh media sosial kerap kali menghampiri para pemuda pemudi yang tengah dilanda virus merah jambu, yang memudahkan para remaja untuk saling berkomunikasi dengan bebas bahkan kepada lawan jenis yang bukan mahramnya. Tidak jarang ditemukan banyak kasus kekerasan yang didasarkan atas komunikasi-komunikasi tersebut. Ada pula kejadian-kejadian kekerasan dari sosial media yang pelaku maupun korbannya adalah para remaja perempuan yang tak lain disebabkan kecemburuan dalam “berpacaran”. Seperti dilansir dari https://daerah.sindonews.com, 4 remaja di Bandung harus berurusan dengan polisi dikarenakan kasus pengeroyokan yang dilakukan kepada seorang mahasiswi yang katanya disebabkan akibat kecemburuan.

Pengeroyokan ini dipicu cemburu karena korban mem-follow akun media sosial seorang pria yang disukai oleh pelaku berinisial MS. Empat pelaku yang dibekuk dua orang gadis berinisial MS (19) dan RM (21). Serta dua remaja pria AR dan IM yang masih berusia 17 tahun. Kasat Reskrim Polrestabes Bandung AKBP M Yoris Maulana Yusuf Marzuki mengungkapkan, peristiwa pengeroyokan itu terjadi di unit Apartement Metro Suits Buah Batu milik teman para tersangka pada Selasa, 24 januari 2017 lalu.

Kurangnya Pendidikan Moral Anak, Sumber Kriminalisasi

Pendidikan moral bagi setiap anak seyogyanya sudah diajarkan ketika seorang anak masih berada didalam kandungan. Salah satu cara yang bisa dilakukan ialah dengan cara sering memperdengarkan kalimat-kalimat yang baik seperti membacakan Al-qur’an dan kalimat-kalimat Allah lainnya seperti dzikir. Beberapa penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dalam bidang perkembangan pralahir menunjukan bahwa selama berada dalam rahim, anak dapat belajar, merasa, dan mengetahui perbedaan antara gelap dan terang. Dengan latihan pendidikan pralahir berarti memberikan stimulasi sistematis bagi otak dan perkembangan saraf bayi sebelum dilahirkan. Selain itu, latihan-latihan edukatif pralahir membantu bayi lebih efektif dan efisien dan menambah kapasitas belajar setelah ia dilahirkan.

Upaya Penanggulangan Penyalahgunaan Sosmed

Tidak adanya batasan dalam penggunaan sosmed bisa saja mengundang banyak tindakan kriminal. Kurangnya control keluarga terhadap anak dalam menggunakan sosmed juga merupakan kesalahan yang besar. Kemudian, orang tua pun harus cerdas dalam menggunakan sosmed, sehingga mereka tidak mudah dibodohi oleh anak-anaknya.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meminimalisir penyalahgunaan penggunaan sosmed di Indonesia adalah dengan menerapkan pembatasan konten yang telah diterapkan oleh pemerintah RRC atau melakukan penyuluhan-penyuluhan diseluruh Indonesia tentang ineternet, sosmed, dan pengaruhnya atau melakukan pengawasan terhadap para remaja atau anak-anak oleh orang-orang terdekatnya. Hal ini dibutuhkan peran pemerintah dalam membatasi konten yang tidak selayaknya diakses oleh masyarakat.

Faktor lain yang menjadi penyebab terjadinya penyalahgunaan sosmed adalah salah bergaul. Yang dimaksud salah bergaul dalam hal ini adalah pergaulan yang terjalin antara remaja laki-laki dan perempuan yang melampaui batas. Didalam Islam telah diajarkan tata cara bergaul antara wanita dan pria. Imam Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitabnya yang berjudul “An-Nizhâm al-Ijtimâ’i fî al-Islâm (2003), khususnya halaman 25-30 pada bab “Tanzhîm ash-Shilât bayna al-Mar’ah wa ar-Rajul (Pengaturan Interaksi Wanita dan Pria), kemudian menerangkan beberapa hukum syariah untuk mengatur interaksi pria dan wanita. Hukum-hukum ini dipilih berdasarkan prinsip bahwa meski pria dan wanita dibolehkan beriteraksi untuk tolong-menolong, interaksi itu wajib diatur sedemikian rupa agar tidak membangkitkan hasrat seksual, yakni tetap menjaga kehormatan (al-fadhîlah) dan moralitas (akhlâq). (h. 27). Diantara hukum-hukum itu adalah Perintah menundukkan pandangan (ghadhdh al-bashar) (QS an-Nur [24]: 30-31). Yang dimaksud ghadhdh al-bashar menurut An-Nabhani adalah menundukkan pandangan dari apa saja yang haram dilihat dan membatasi pada apa saja yang dihalalkan untuk dilihat (h. 41). Interaksi pria wanita hendaknya merupakan interaksi umum, bukan interaksi khusus. Sehinnga, interaki yang terjalin antara pria dan wanita bukan merupakan interaksi yang mengundang syahwat diantara keduanya.

Kurangnya pengetahuan islam bagi setiap orang akan memicu hal-hal negatif yang akan merusak moral generasi. Mayoritas kejahatan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat disebabkan kurangnya pemahaman islam yang dimiliki oleh setiap anak. Sebagai generasi islami harusnya mereka mampu membedakan sesuatu yang merupakan jati dirinya sebagai seorang muslim. Dalam kasus ini, seyogyanya para remaja tersebut menyadari bahwa kecemburuan yang didasarkan atas hubungan yang haram merupakan kesalahan terbesar, dimana perbuatan yang mereka lakukan akan dimintai pertanggung jawabannya kelak dihadapan Allah SWT.

Sehubungan dengan kejadian ini, patutnya syariah Islam segera ditegakkan untuk menghindari hal-hal lain yang dapat memicu tindak kejahatan dikalangan remaja melaui media sosial disebabkan tuntutan mereka untuk mengikuti hawa nafsunya tanpa ada rasa takut sedikitpun pada hukuman Allah SWT. Obat atau solusi terhadap penyakit sosial yang kronis dengan cara mengatur kembali interaksi pria wanita secara benar dengan syariah Islam. Hanya dengan syariah Islam, interaksi pria wanita dapat diatur secara sehat dan berhasil-guna, yaitu tanpa membangkitkan hasrat seksual secara ilegal, namun tetap dapat mewujudkan tolong-menolong di antara kedua lawan jenis untuk mewujudkan kemaslahatan bagi masyarakat. Allahualam Bisawwab

Facebook Comments
loading...