Ombudsman Sarankan Pengerjaan Pasar Baruga Ditunda
Asisten Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sultra, Ahmad Rustam. (KABARKENDARI/KASMAN)

Kabarkendari.com – Ombudsman Republik Indonesia atau ORI Perwakilan Sulawesi Tenggara menyarankan agar pengerjaan Pasar Baruga, Kota Kendari, ditunda untuk sementara waktu. Pasalnya, perusahaan pemenang lelang proyek tersebut dilaporkan tidak memiliki kemampuan dasar untuk mengerjakan paket senilai Rp 9 miliar.

Asisten ORI Sultra, Ahmad Rustam, menjelaskan, sesuai pasal 19 Peraturan Presiden disingkat Perpres Nomor 70 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua Atas Perpres Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, mengatur soal pengalaman yang dikecualikan perusahaan baru dan juga mengatur tentang perusahaan wajib memiliki kemampuan dasar.

Sementara, kata dia, berdasarkan laporan yang diterima, perusahaan pemenang lelang dalam proyek Pasar Baruga masih tergolong perusahaan baru dan tidak memiliki kemampuan dasar untuk mengerjakan item kegiatan sebesar Rp 9 miliar.

“Kalau dia perusahaan baru maka secara otomatis dia tidak memiliki kemampuan dasar. Ini substansi yang menjadi pokok pemeriksaan oleh Ombudsman, apakah dibolehkan perusahaan baru itu tanpa kemampuan dasar,” paparnya.

Karena itu, lanjut dia, untuk menyimpulkan ada tidaknya dugaan malaadministrasi dalam proses lelang, ORI Sultra telah mengirimkan surat kepada Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah disingkat LKPP untuk meminta pendapat soal tender proyek yang dilakukan kelompok kerja atau Pokja Kota Kendari.

“Mudah-mudahan pekan depan sudah ada kesimpulannya. Saya belum tahu progres setelah hasil lelang itu, apakah sudah ada pekerjaan di lapangan atau tidak, tapi sebaiknya ditunda dulu untuk sementara agar menghindari adanya kerugian negara di dalamnya,” imbuh Asisten ORI Perwakilan Sultra, Ahmad Rustam, Kamis 25 Agustus 2016.

Pendapat atau jawaban yang akan disampaikan LKPP, tambah dia, nantinya akan menjadi dasar bagi ORI Suktra untuk memberikan kesimpulan.

Rustam mengurai, kasus itu bermula dari salah satu perusahaan peserta lelang yang mengadu ke Ombudsman, bahwa perusahaan pemenang lelang dinilai tidak memenuhi syarat untuk mengerjakan proyek pasar Baruga. Namun pada kenyataannya keluar sebagai pemenang dalam proses lelang.

Sebetulnya, beber dia, ada lima rekanan yang ikut lelang, empat dinyatakan tidak memenuhi syarat dan satu perusahaan yang masih baru dinyatakan sebagai pemenang.

Lebih lanjut Rustam mengatakan, kasus ini dilaporkan sejak Juli 2016. Pasar Baruga dikerjakan menggunakan anggaran tahun 2016 dengan nilai kontrak sebesar Rp 9 miliar.

Penulis: La Ode Kasman
Editor : Jumaddin Arif Tibarani

Facebook Comments
loading...