OJK Sultra
Kepala Otoritas Jasa Keuangan Sultra, Widodo. (KABARKENDARI/Kasman)

Kabarkendari.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tenggara menyebut, kredit macet di daerah ini masih tergolong rendah dan belum mencapai angka mengkhawatirkan. Sejak Januari hingga September 2016, kredit macet di Sultra baru sekitar 2,5 persen.

“Kredit macet di Sultra belum sampai 3 persen, dan itu masih rendah. Karena ukuran kredit macet yang mengkhawatirkan jika sudah sampai 5 persen, kalau masih di bawah 5 persen belum sampai ke lampu merah,” terang Kepala OJK Sultra, Widodo, Senin 10 Oktober 2016.

Dia menuturkan, jika sudah mencapai angka 5 persen dari seluruh total kredit akan berpengaruh pada penghasilan dan pendapatan bank. Begitu pula sebalikanya, jika masih di bawah 5 persen, bank masih survive karena masih bisa untung.

Widodo menyebut, ada bebebera penyebab kredit macet di Sultra. Di antaranya, adanya kebijakan pemerintah yang melarang ekspor nikel sebelum dimurnikan sehingga menyebabkan perusahaan tambang tidak beroperasi.

BACA JUGA: Tidak Dimanfaatkan dengan Baik, Uang Koin Bisa Picu Inflasi

Kemudian, adanya kesalahan pengurusan kredit debitur itu sendiri. Misalnya debitur mengajukan ke bank untuk modal kerja, ternyata dipakai untuk beli tanah atau bangun.

“Kalau dari sisi banknya menganalisanya dan mengawasi yang benar tentu itu bisa memperkecil risiko kredit macet sehingga harus dimonitor usaha debitur,” imbuh Widodo.

Dibeberkan, selama ini sudah ada tiga Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang dipanggil soal kredit macet. Sementara, bank umum belum ada yang dipanggil.

“Kalau sudah lewat 5 persen tentunya pihak bank kita panggil untuk menyelesaikan masalah kredit macet,” tuntasnya.

Penulis: La Ode Kasman
Editor : Jumaddin Arif Tobarani

Facebook Comments
loading...