Tarian Erotis Kendari
Pertunjukan tarian erotis di tempat hiburan malam D'Liquid Grand Clarion Hotel Kendari, Sulawesi Tenggara. (KABARKENDARI/EGI)

Kabarkendari.com – Hadirnya tarian erotis dengan menggunakan pakaian minim di Tempat Hiburan Malam atau THM D’Liquid Kendari, Sulawesi Tenggara, mengundang tanggapan Majelis Ulama Indonesia atau MUI Sultra.

Ketua Majelis Ulama Indonesia atau MUI Sultra, Drs. H. Mursidin, kepada Kabarkendari.com Selasa 06 September 2016, menilai, apapun namanya, tarian dengan menampilkan lekuk tubuh apalagi berbusana seksi, itu melanggar norma agama.

“Membuka aurat itu kan dilarang. Apalagi disaksikan oleh banyak orang. Kalau tarian erotis itu ada, berarti melanggar agama dalam hal ini membuka aurat di depan umum. Nah, Islam melarang ini. Pemerintah harus menilai kembali hadirnya tarian erotis itu,” kata Mursidin melalui selulernya.

Menurut Mursidin, MUI tidak mempunyai landasan untuk melarang hadirnya tarian erotis karena itu berkaitan dengan seni dan ada kaitannya dengan pemerintah setempat.

Hanya saja, Mursidin meminta pemerintah Kota Kendari dibawah kendali Asrun-Musadar untuk bersama-sama menyikapi hal-hal yang melanggar norma-norma agama, termasuk tari erotis. Pembangunan di bidang keagamaan, kata Mursidin, mestinya selaras dengan bidang lainnya.

“Marilah kita selektif dalam proses ini. Jangan biarkan remaja atau generasi kita ternodai dengan dengan hadirnya hal-hal yang melanggar norma agama,” tutupnya.

Berbeda dengan Ketua MUI, alim ulama Kota Kendari, H Muslim, mengungkapkan, dalam proses pembangunan kota, harusnya pemerintah bisa selektif. Program dan pencanangan Kota Kendari itu adalah menciptakan kota bertakwa. Kalau itu dimaknai, kata H Muslim, maka kita harus kembali pada aturan program pemerintah.

“Maksunya adalah kota bertakwa itu, perbuatan kita harus sesuai dengan norma agama dan ketakwaan kita terhadap Allah, bukan yang dilarang oleh Allah. Intinya adalah melakukan perbuatan yang diridhoi oleh Allah. Melakukan perbuatan yang tidak merugikan orang lain tidak mencederai orang lain dan yang terakhir adalah melakukan perbuatan yang merugikan diri sendiri,” ulas Muslim.

Pegawai Kantor Kementrian Hukum dan HAM ini juga menjelaskan, saat ini dengan berkembangnya ilmu dan teknologi, pemerintah harusnya selektif apabila program itu dapat merubah atau memberi pengaruh pada ahklak dan moral itu harus selektif. Apalagi tarian erotis, kata Muslim, yang dipertontonkan dimasyarakat.

“Sekarang ini, jangankan hadir langsung itu tarian erotis di Kendari ini, melihat di dunia maya saja pengaruhnya luar biasa apalagi ditonton secara langsung. Makanya ini berbahaya dan harus diantisipasi,” jelasnya.

Penulis : Kamarudin
Editor   : Jumaddin Arif Tobarani

Facebook Comments
loading...