Sekolah Keberbakatan Olahraga Kendari
Sejumlah siswi Sekolah Keberbakatan Olahraga Kendari menuju ke pantri untuk makan siang.(KABARKENDARI/SUWARJONO)

Kabarkendari.com – Sebanyak 17 siswa Sekolah Keberbakatan Olahraga (SKO) Sulawesi Tenggara (Sultra) memutuskan keluar dan memilih pindah sekolah lain. Pasalnya, para siswa merasa dibohongi pihak SKO.

Salah seorang siswa asal Kolaka Utara, Fian mengaku keluar karena pihak SKO tidak konsisten dengan janji yang pernah disampaikan saat proses rekrutmen. Para siswa ternyata dijanjikan akan diberi uang saku setiap bulan selama proses belajar mengajar. Namun hal itu tidak terealisasi.

Parahnya lagi, kata dia, saat para siswa sakit, pihak SKO tidak mau menanggung biaya berobat, justru membebankannya kepada para siswa sendiri. Begitu pula dengan sepatu, pakaian, dan biaya latihan menggunakan uang pribadi siswa.

“Dari pertama kita sudah dijanji, bahwa ada uang saku per bulannya tapi sampai kita keluar belum ada. Kemudian kalau kita sakit biaya sendiri yang kita pakai untuk berobat, pihak SKO hanya membawa siswa ke rumah sakit. Padahal dulu katanya tinggalnya nyawa yang tidak ditanggung,” ungkap Fian.

Selain itu, tambah dia, proses belajar mengajar di SKO tidak berjalan maksimal. Kadang, dalam sepekan hanya tiga kali pertemuan. Padahal, kata Fian, tujuannya memilih SKO untuk berprestasi dalam bidang akademik dan olahraga dalam hal ini cabang olahraga takraw.

BACA JUGA: Sarana dan Prasarana SKO Sultra Belum Memadai

Fian menambahkan, masalah lain adalah awalnya makanan para siswa sebelum disajikan diperiksa terlebih dahulu kesterilannya oleh salah seorang petugas kesehatan. Namun, hal itu hanya berjalan beberapa bulan saja dan tiba-tiba dihentikan.

“Makanan sebelum kita makan diperiksa dulu sama petugas kesehatan dan akhirnya sudah tidak ada lagi pemeriksaan, cuma pertama-pertama yang bagus,” ujar siswa jurusan cabor takraw ini dengan nada sedikit kecewa.

Alasan itulah yang membuat Fian keluar dan memilih pindah ke Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Lasusua, Kolaka Utara, kampung halamannya. Siswa kelas XI yang keluar pada Agustus 2016 ini merasa, SKO bukan sekolah yang tepat untuk mengembangkan bakatnya di bidang akdemik dan olahraga.

Hal senada juga diungkapkan siswa asal Pasar Wajo, Rudi. Dia mengaku, pihak SKO pernah menjanjikan uang saku sebesar Rp 1,2 juta per bulan, namun sampai ia keluar, uang tersebut tak kunjung ada.

“Setelah kami tanyakan ke Kepala SKO, katanya baru mau diusulkan dan katanya jumlahnya bukan lagi Rp 1,2 juta tapi hanya Rp 300 ribu per bulan. Mungkin itu cuma iming-iming saja, supaya banyak yang datang sekolah ke SKO,” ketusnya.

Kini, Rudi memilih pulang kampung pada Agustus 2016 dan melanjutkan studi di SMA Negeri 1 Pasar Wajo, Kabupaten Buton.

Penulis: La Ode Kasman
Editor : Jumaddin Arif Tobarani

Facebook Comments
loading...