Eks Tapol PKI
La Mbaatu Berdiri di Depan Kediamannya Kampung Nanga-nanga. (KABARKENDARI/Suwarjono

Kabarkendari.com – Ruang tahanan memisahkan La Mbaatu dengan dunia luar. Termasuk dengan istri terkasih, Wa Ode Zatima. Perpisahan tragis itu terjadi di tahun 1972. Mata lelaki renta itu mulai berkaca-kaca.

Perpisahan membuat derita La Mbaatu makin bertambah saja. Bebannya makin menjadi manakala ia mendapati kabar, sang isteri tercinta juga mengalami penyiksaan serupa dikediaman mereka.

“Bukan cuma saya, tapi semua teman-teman saya istrinya juga disiksa. Sampai-sampai diperkosa istri kami dalam rumah. Mau berbuat apa kami. Kami juga dalam tahanan menjalani penyiksaan,” kenang La Mbaatu.

Cinta kasih La Mbaatu kepada Wa Ode Zatima begitu berlimpah. Mendapat info penyiksaan itu, La Mbaatu tak kuasa menahan sakit. Sementara Zatima mengalami trauma parah.

“Sampai-sampai lihat baju hijau itu istri saya pingsan. Tidak sanggup dia melihat militer karena penyiksaan dan kekesaran seksual itu. Tidak apa-apa kita terbuka saja, kan semua kejadian itu masa lalu,” tuturnya.

Wa Ode Zatima telah lebih dahulu menghadap Sang Pencipta. Meninggalkan pujaan hatinya pada fananya dunia. Namun bayang-bayang Zatima masih abadi dalam untaian doa-doa panjang yang selalu tercurah kepada Sang Khalik.

BACA JUGA: Memoar La Mbaatu, Eks Tapol di Kampung Pengasingan (1)

Dibalik raganya yang mulai rapuh, jiwa La Mbaatu berjuang mencapai ikhlas. Melupakan satu persatu kenangan pahit itu. Dianggapnya semua itu sebagai masa lalu yang tak perlu diratapi saban hari. Sebab hidup akan terus berjalan. Dan dendam kesumat takkan membawa kebajikan.

“Saya tidak marah dipenjara. Saya tidak kecewa dengan semua itu. Kan masa lalu,” La Mbaatu berusaha tegar.

Penulis : Kamarudin
Editor: Zainal A. Ishaq

Facebook Comments
loading...