Area Sales Manager Ewindo wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua, Renov Feryanto, saat mengangkat sayur kubis hasil pertanian Imran Moita di Konut. (KABARKENDARI)

“Ayo bertani,” kata Imran menyambung pernyataan Renov.

 

Kabarkendari.com – Lima bulan lalu, tepatnya April 2017 sebuah pikiran pengembangan pertanian terbesit di otak Imran Moita. Warga Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara ini berpikir bagaimana mensejahterakan masyarakat Konut melalui pertanian. Imranpun mencoba menjawab pertanyaan itu dengan berkonsultasi sana sini, yang paham betul bagaimana cara bertani modern.

Berjalan waktu, Imran menemukan sebuah lembaga produsen benih hortikultura bernama PT East West Seed Indonesia (Ewindo) produsen benih sayuran Cap Panah Merah. Imran mengungkapkan kegundahan pikirannya itu kepada Ewindo, yang belakangan siap membantunya. Imran menjelaskan dirinya ingin bertani hortikultura namun tidak tahu bagaimana cara memulainya. Hal ini diharapkan mampu mensejahterakan masyarakat melalu pertanian.

“Awalnya saya berpikir, kenapa warga kita pribumi Konawe Utara tidak bisa bertani. Kenapa hanya orang Jawa dan Bali, minta maaf ini yah ini bukan menghujat. Kenapa hanya mereka yang bisa, kita hanya berharap dibidang lain. Kemudian saya mencoba menjalankan pertanyaan ini,” kata Imran.

Nampak Imran Moita (Kaos Abu-Abu), menjelaskan awal mula keinginan dia bertani dihadapan anggota DPRD Konut. (KABARKENDARI)

Dengan kerja sama biasa, yakni Imran menyiapkan lahan sedang Ewindo menyiapkan benih hortikultura siap tanam Cap Panah Merah. Berupa sayuran, cabai dan tomat, Imranpun memulai menjalankan mimpi bertaninya itu. Imran bertani dengan enam varietas benih unggul sayuran yang diberikan oleh Ewindo. Enam varietas benih tersebut labu, kubis, terong bulat, terong ungu, timun, dan tomat.

Modal Rp 4 juta dibantu lahan pribadi yang luasnya 2500 meter persegi, Imran menanam dengan ditemani tenaga pendamping dari Ewindo, yang juga sebagai program edukasi pertanian dari perusahaan ini. Tiga bulan kemudian pasca tanam, Kamis 10 Agustus 2017 hari ini, Imranpun panen. Hasilnya luar biasa. Tanaman yang segar menghiasi kebun kecilnya.

“Hasilnya bisa lebih dari modal saya tadi kalau dijual. Ini baru saya yang jalankan begini,” katanya dengan bersemangat.

Untuk upaya edukasi juga kepada masyarakat Konawe Utara, khususnya di Desa Tokowuta, Kecamatan Wawolesea, Kabupaten Konawe Utara, ia bersama Ewindo mencoba panen dalam bentuk lain. Panen perdana tanaman Imran ini dikemas dalam bentuk ekspo Kamis hari ini. Temanya yaitu “Tingkatkan Konsumsi Sayur Untuk Masyarakat yang Sehat dan Sejahtera Melalui Alih Teknologi Budidaya Tanaman”

Masyarakat yang membeli tomat merah hasil panen dari kebun Imran Moita di Konut. (KABARKENDARI)

“Tujuannya supaya masyarakat juga bisa bertani seperti saya ini. Apalagi ada lembaga Ewindo sebagai penyedia bibit,” jelasnya.

Ditempat yang sama, Area Sales Manager Ewindo wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua, Renov Feryanto tidak menceritakan bagaimana perkenalannya dengan Imran Moita. Yang pasti katanya, Ewindo sebagai perusahaan produsen benih sayuran Cap Panah Merah berharap petani Indonesia bisa berkembang. Tujuannya untuk memperkuat penghidupan dan mencetak petani yang tangguh.

“Terutama dalam meningkatkan produksi pertanian melalui alih teknologi dan benih unggul hingga meminimalisir risiko perubahan iklim. Kami optimistis petani di Sulawesi Tenggara akan menjadi petani sayuran yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim,” katanya.

Dia mengapresiasi kemauan Imran untuk bertani. Karena untuk Wilayah Sultra selain di Konawe Utara, pihaknya juga memberikan edukasi di tiga wilayah lainnya yakni Kota Bau Bau, Kabupaten Konawe dan Kabupaten Kolaka. Ia menjelaskan panen perdana dari hasil pertanian Imran dapat mentransfer pengetahuan tentang cara bertanam yang baik kepada kelompok-kelompok tani.
“Melalui serangkaian pelatihan dan demo-plot. Selain itu juga dilakukan upaya perlindungan terhadap penyakit, penggunaan pupuk yang tepat,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini petani juga diperkenalkan dengan enam varietas unggul sayuran yang sebagian besar toleran terhadap cuaca ekstrim dan tetap dapat berproduksi tinggi. Varietas-varietas tersebut adalah Labu varietas KUSUMA F1, Kubis varietas SEHATI F1, Terong bulat varietas JENO F1, Terong Ungu varietas LAGUNA F1, Timun varietas Misano F1 dan Tomat varietas TANTYNA F1.

“Melalui program alih teknologi dan penggunaan benih unggul berkualitas yang disinergikan dengan kegiatan pengurangan risiko bencana, adaptasi perubahan iklim serta konservasi air dan lingkungan, kami optimistis pasokan sayuran akan terus terjaga dan yang utama ketahanan pangan di Indonesia Timur khususnya untuk sayuran di Sulawesi Tenggara,” pungkas Renov Feryanto.

“Ayo bertani,” kata Imran menyambung pernyataan Renov.

Penulis : Kamarudin

Facebook Comments
loading...