ilustrasi investasi
Ilustrasi. (INT)

Kabarkendari.com – Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Kendari, Epha Karunia Titasari mengakui, masih banyak masyarakat yang belum paham manfaat dan keuntungan investasi saham. Padahal pembelian saham bisa dilakukan dengan hanya modal Rp 100 ribu.

“Kalau berinvestasi di pasar modal khususnya di saham keuntungan yang akan didapat ada namanya capital gain, yaitu keuntungan atau laba kenaikan harga saham,” terang Epha, Rabu 19 Oktober 2016.

BACA JUGA: BEI Kendari Cegah Penipuan Berkedok Investasi Saham

Epha mencontohkan, investor membeli saham dengan harga terendah yakni Rp 100 ribu. Kemudian harga saham naik menjadi Rp 200 ribu, otomatis keuntungan yang didapat adalah Rp 100 ribu, yang berasal dari selisih harga antara pembelian saham rendah dan penjualan ke harga yang paling tinggi.

“Karena investasi di saham ini adalah membeli saham dari suatu perusahaan, berarti nanti kita bisa mendapatkan dividen atau pembagian keuntungan dari perusahaan. Ada istilah stock split yaitu harga saham yang ketinggian sehingga satu saham bisa dipecah menjadi lima, jadi jumlah saham yang dimiliki investor makin bertambah,” jelas Epha.

Epha menambahkan, keuntungan yang diperoleh investor bukan berdasarkan pada besaran saham yang dibeli, namun tergantung dari peminat saham. Karena walaupun modalnya sedikit tetapi saham yang dibeli seorang investor banyak diminati, secara otomatis keuntungan yang diperoleh juga semakin besar.

BACA JUGA: BEI Kendari: Nilai Transaksi Pasar Modal Sultra Capai Rp 600 Juta Per Bulan

Sayangnya dia tidak bisa membeberkan saham-saham yang banyak peminatnya tersebut. Epha mengaku, pihaknya hanya bisa menunjukkan kepada investor bahwa terdapat 45 saham yang tercatat di BEI yang memiliki likuiditas paling tinggi atau biasa dikenal LQ 45.

“Di Bursa Efek Indonesia kan ada 539 saham, ada 45 yang kami nilai likuiditas yang paling tinggi sehingga diminati masyarakat. Sistem BEI Bursa Efek itu sistem yang terpusat, jadi dimanapun investor berada terpusat pada Jakarta Automatic Trading System (JATS),” tuntas Epha.

Penulis: La Ode Kasman
Editor: Jumaddin Arif Tobarani

Facebook Comments
loading...