Padang Savana di Bombana tempat PT Panca Logam
Padang Savana di Bombana tempat PT Panca Logam Beroperasi. (KABARKENDARI/Suwarjono)

Kabarkendari.com – Satu per satu petinggi perusahaan penambang emas di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, yakni, PT Panca Logam Makmur (PLM), digelandang masuk ke dalam Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIA Kendari.

Teranyar, Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara kembali menahan dua karyawan perusahaan tersebut dalam kasus dugaan korupsi dengan modus manipulasi data produksi emas yang berimplikasi pada setoran royalty ke pemerintah daerah setempat. Keduanya adalah karyawan accounting Made Susastra dan Wakil Direktur PT PLM Rizal Fachreza.

Penahanan ini dilakukan setelah penyidik melakukan pemeriksaan terhadap keduanya selama sembilan jam, Jumat 30 September 2016. Made Susastra dan Rizal Fachreza diperiksa sejak pukul 09.00 Wita hingga pukul 17.00 Wita.

Usai menjalani pemeriksaan, mereka langsung digelandang ke rumah tahanan. Dengan demikian, kehadiran Made Susastra dan Rizal Fachreza mengobati kesepian yang dirasakan Kepala Biro Keuangan PT PLM Fahlawi Mujur Saleh yang sudah masuk lebih dahulu di Rutan.

“Setelah kami periksa, penyidik berkesimpulan keduanya harus ditahan. Penahanan ini menjadi kewenangan penyidik. Mungkin ada pertimbangan lain sehingga dilakukan penahanan,” kata Humas Kejati Sultra, Janes Mamangkei, Jumat 30 September 2016 sore.

BACA JUGA: Dua Kali Mangkir, Petinggi PT PLM Penuhi Panggilan Penyidik

Menurut Janes, Made Susastra, Rizal Fachreza, dan Fahlawi Mujur Saleh ditahan karena beberapa pertimbangan, yakni, dapat menghilangkan barang bukti, melarikan diri atau tidak kooperatif saat proses pemeriksaan lanjutan,

Apalagi kata Janes, saat pemanggilan sebagai saksi beberapa waktu lalu, Fahlawi Mujur Saleh sempat mangkir tanpa alasan. Selain itu, Janes membeberkan, penahanan tersebut juga merupakan kesimpulan hasil pemeriksaan.

Kata dia, keduanya diduga kuat terlibat dalam kasus pemalsuan data hasil produksi emas PT PLM yang berdampak pada pembayaran royalty yang merugikan keuangan Negara sebesar Rp 12 miliar.

Pada kesempatan itu, Janes belum berani memastikan bahwa kasus ini melibatkan koorporasi atau pihak-pihak lain. Pastinya, lanjut dia, kasus ini akan terus diselidiki hingga ke akar-akarnya.

“Itulah yang kami cari tahu. Yang pasti ketiga tersangka awal ini sudah ditetapkan dan ada juga yang ditahan. Dari keterangan mereka hasilnya disetorkan, yah kami akan dalami bukti penyetoran itu seperti apa,” pungkasnya.

Untuk diketahui, kasus ini bermula saat ditemukannya kejanggalan dalam laporan hasil produksi emas PT PLM kepada Pemkab Bombana. Dalam laporan lain, hasil produksi emas PT PLM adalah 15 ton ore emas per tahun, namun laporan di Pemda diubah menjadi 10 ton ore emas per tahun. Kasus ini terjadi tahun 2010-2011.

Kejati Sultra juga tidak hanya mendalami kasus itu, tetapi termasuk kasus kelalaian perusahaan dengan tidak menyetorkan penghasilan negara bukan pajak (PNBP) yang terjadi sejak tahun 2012 hingga 2015 sebesar Rp 9 miliar.

Penulis : Kamarudin
Editor : Jumaddin Arif Tobarani

Facebook Comments
loading...