balita penderita tumor di kendari
Anita Putri, terus merintih kesakitan akibat tumor pada tulang ekornya. (KABARKENDARI/PANDI)

Kabarkendari.com – Muhammad Anto murung. Ia tak habis pikir mengapa kartu BPJS tidak bisa digunakan di rumah sakit. Sesekali ia menatap putri bungsunya, Anita Putri, yang terus merintih menahan sakit. Anita Putri, Balita berusia enam bulan itu menderita Tumor pada tulang ekornya.

Muhamad Anto alias Soleh dan keluarganya menumpang di rumah mertuanya, Jalan Balaikota III Permai, Kelurahan Pundambea, Kecamatan Kadia, Kota Kendari. Lelaki 25 tahun itu menghidupi keluarganya dari penghasilannya sebagai tukang parkir. Bebannya sebagai kepala keluarga makin tak tertanggungkan sejak Anita menderita tumor ganas.

Anita mengidap tumor pada bagian tulang ekornya sejak lahir. Sepanjang hari balita malang itu hanya bisa menangis dan merintih menahan sakit. Setiap jam tubuh bayi mungil itu mengalami demam.

“Memang, pada saat hamil tua istri saya pernah terjatuh dan tulang belakangnya terbentur di lantai. Setelah saya ketahui ada kelainan, saya bawa di rumah sakit,” ujar suami dari Rindi ini.

Harapan Soleh tinggal harapan. Pasalnya, tak satupun rumah sakit di Kota Kendari bersedia merawat bayi malang dari keluarga miskin seperti Anita. BPJS yang disodorkan ke petugas rumah sakit selalu ditolak. Alasan yang diterima selalu sama. Anita belum terdaftar sebagai peserta BPJS.

“Padahal, ibunya ada BPJS-nya. Tapi ditolak juga karena satu orang itu harus punya BPJS termasuk anak baru lahir,” ketus Soleh.

Demi kesembuhan anaknya, Soleh mencoba mendaftarkan anaknya ke BPJS. Kartu BPJS pun kelar. Tapi persoalan belum selesai. Rumah sakit juga masih menolak merawat Anita dengan alasan terkendala peralatan.

“Katanya harus dioperasi di Makassar. Di rumah sakit di Kendari, memang dirawat juga tapi hanya lima hari lalu dikasi keluar. Itu pun, di rumah sakit hanya diimpus saja,” sesal Soleh.

Meskipun mendapat surat rujukan ke Makassar, Soleh masih berpikir panjang untuk membawa anaknya ke Makassar. Sebab, darimana asal biaya. Penghasilan dari tukang parkir kadang tak cukup untuk makan sekeluarga. Sementara kakak Anita, Anindita juga masih butuh perhatian karena usianya yang baru menginjak 1,5 tahun.

“Satu hari itu kadang paling banyak Rp 40 ribu. Itu pun kalau banyak kendaraan yang masuk. Rata-rata hanya Rp 20 ribu saja,” kata Soleh sembari menyembunyikan raut wajah.

Dalam keadaan terpukul Soleh dan istrinya tak punya pilihan selain membiarkan anaknya tergolek, merintih dan demam sepanjang waktu. Soleh Pasrah.

“Saya berharap, anak saya bisa sembuh dan dioperasi. Tapi saya tidak mampu menanggung biaya karena makan pun kami susah. Mudah-mudahan ada yang mau membantu,” katanya lirih.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman
Editor   : Zainal A. Ishaq

Facebook Comments
loading...