Prof La Rianda
Prof La Rianda. (KABARKENDARI/KASMAN)

Kabarkendari.com – Salah seorang bakal calon rektor Universitas Halu Oleo Kendari, Profesor La Rianda mengungkap adanya permainan uang dari oknum kandidat rektor dalam Pilrek sebelumnya yang dibatalkan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Terbukti, salah seorang anak buah Profesor La Niampe pernah mengambil uang Rp 20 juta kepada salah seorang pemilik hak suara. Uang itu diambil karena oknum tersebut memilih kandidat lain yang bayarannya lebih tinggi yakni Rp 30 juta.

BACA JUGA: Mahasiswa UHO Desak Pilrek Ditunda

“Ada juga teman-teman yang mengaku dikasih Rp 15 juta dalam bentuk pinjaman untuk imbalan memilih salah seorang kandidat, namun setelah inspektorat datang, orang-orang itu saya panggil tetapi tidak datang untuk memberikan keterangan,” ungkap Profesor La Rianda.

Profesor La Rianda mengakui, permainan uang dalam pilrek susah dibongkar karena oknum yang memberi dan penerima sama-sama kompak tidak mau dimintai keterangan. Apa lagi, uang tersebut diberikan dengan alasan pinjaman.

Masih kata dia, dirinya juga pernah didatangi seseorang menawarkan untuk membantunya melobi suara 35 persen suara Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Namun dengan syarat harus menyetor sejumlah uang minimal Rp 1,5 miliar.

“Saya pernah didatangi orang, saya diminta menyetor uang Rp 5 miliar, turun Rp 3 miliar, turun sampai Rp 1,5 miliar tetapi saya bilang tidak punya uang. Uang itu digunakan untuk melobi di jakarta,” beber Profesir La Rianda.

Sayang, dia enggan menyebut identitas orang yang menawarkan jasa tersebut. Hanya saja orang itu berdomisili di Kota Kendari. Penawaran tersebut terjadi pada September 2016 atau setelah dirinya masuk tiga besar calon rektor yang pada akhirnya batal dan kembali dilakukan penjaringan ulang.

Profesor La Rianda mengakui, dirinyalah yang melaporkan ke Ombudsman Republik Indonesia atau ORI, bahkan ia juga tidak menampik bahwa masalah tidak independesinya Rektor UHO Kendari, Profesor Usman Rianse dalam pilrek sampai ke Menristekdikti, M Nasir. Prof La Rianda menghadap langsung kepada menteri mengadukan hal tersebut.

BACA JUGA: Jelang Penutupan Pendaftaran, Sudah Lima Balon Rektor UHO Kendari yang Bersedia

“Saya laporkan ke ORI tidak independennya rektor dan saya menghadap menteri mengadukan pemilihan rektor UHO tidak menunjukan suatu tatanan demokrasi yang bermartabat, banyak rekayasa. Padahal kita ini profesor yang harus menjujung tinggi nilai-nilai kejujuran,” tandasnya.

“Harapan kita Pilrek ini harus prosesnya dengan bagus dan tidak ada indikasi rekayasa sehingga rektor yang terpilih betul-betul lahir secara demokratis dan bermartabat,” tuntas Profesor La Rianda

Penulis: La Ode Kasman
Editor: Jumaddin Arif Tobarani

Facebook Comments
loading...