Bisnis Kulit Sapi di Kendari
Pengepul kulit sapi, Daeng Juma. (KABARKENDARI/KASMAN)

Kabarkendari.com – Idul Kurban atau Iduladha menjadi momen yang sangat berharga bagi para pengepul kulit sapi. Mereka bisa meraup rezeki dari hasil jual beli kulit sapi kurban yang sebagian orang dianggap sudah tak bernilai.

Bagi mereka yang hanya sekedar ingin menikmati dagingnya saja, tidak lagi memikirkan manfaat dari kulit sapi. Padahal, secara ekonomi, bisnis kulit sapi bisa membantu menambah penghasilan keluarga.

Adalah Daeng Juma, warga Kelurahan Punggolaka, Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari, memanfaatkan kesempatan hari raya haji untuk mengumpulkan pundi-pundi dari hasil jual beli kulit sapi.

Meskipun hanya mendapat keuntungan Rp 500 per kilogram dari hasil penjualan kulit sapi, namun penjualan Daeng Juma biasa mencapai volume berton-ton. Bayangkan saja, dalam waktu sehari setelah lebaran Iduladha kemarin, dia sudah mengumpulkan 2,5 ton. Apalagi, menurut Daeng Juma, dalam tiga hari, biasanya dia bisa mengumpulkan sampai 7 ton. Tinggal dikalkulasi saja keuntungannya.

“Kalau hitung bersih, keuntungan bisa mencapai Rp 2,5 juta sekali kirim,” katanya.

Hanya saja, dalam bisnis ini, Daeng Juma harus menyisihkan sebagian modal pembelian untuk biaya transportasi penjualan ke Surabaya, tentunya menyangkut sewa kontainer dan lain-lain. Termasuk menyediakan biaya khusus pembelian garam untuk mengawetkan kulit sapi.

Untuk mendapatkan stok kulit sapi, Daeng Juma membelinya dari para tukang potong sapi yang mendapat jatah khusus kulit sapi dari jasa potongnya, dengan harga Rp 3-4 ribu per kilogram. Kulit sapi yang telah dibelinya dikumpul sebanyak mungkin untuk dijual kembali ke Surabaya melalui kontainer.

Dalam menjalankan bisnisnya, Daeng Juma yang sebelumnya berprofesi sebagai tukang potong sapi, tidak membutuhkan tempat yang eksklusif. Dengan modal timbangan yang diikat pada lintangan sebatang kayu, Daeng Juma nongkrong di tepi jalan yang tak jauh dari rumahnya.

Saat disambangi jurnalis kabarkendari.com, Selasa 13 September 2016, Daeng Juma sedang duduk istirahat di atas deker di bawah pohon rindang tempat mangkalnya, menunggu para pelanggannnya, sambil asyik menikmati sebatang rokok.

Tepat di atas timbangan terpampang sobekan kardus yang bertuliskan ‘Beli Kulit’. Di bawah pohon terdapat 50 kilogram kulit sapi basah masih berdarah hasil timbangannya pagi itu.

Tempat jualan Daeng Juma berada tepat di depan rumah yang berdiri sederhana, milik salah seorang keluarganya. Tempat itu dianggap strategis untuk menggantungkan timbangannya. Dengan topi abu-abu bertulis merah, baju biru, celana puntung hitam plus tas samping hitam. Daeng Juma selalu menatap dan berharap setiap deru kendaraan yang lewat berhenti dan menawarkan kulit sapi.

“Saya beli kulit sapi ini hanya sampai tiga hari setelah lebaran,karena setelah itu sudah sunyi,” ujarnya sambil memandang kulit sapi yang sudah didapatnya.

Para penjual kulit sapi selalu menyerbu tempatnya pada siang hari. “Kalau mau lihat orang banyak menimbang sebenarnya siang hari,” kata pria 60 tahun sambil menatap kosong gantungan timbangannya yang saat itu tak tampang seorang pun yang menawarkan kulit sapi.

Penulis : La Ode Kasman
Editor   : Jumaddin Arif Tobarani

Facebook Comments
loading...