hewan kurban
Piter Supit dan sapi-sapinya. (KABARKENDARI/EGI)

Kabarkendari.com – Jelang Hari Raya Idul adha 1437 H, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, mulai kedatangan ‘tamu’ para pelaku bisnis hewan kurban. Mereka hadir dari berbagai dengan membawa stok yang tak kalah berkualitas dengan stok lokal.

“Persaingan bisnis hewan kurban, khususnya sapi, mulai kelihatan, meskipun Hari Raya Kurban masih dua pekan lagi. Para pedagang pengumpul sapi dari luar mulai berdatangan. Ada yang dari Makassar, Palopo, dan Enrekang,” kata Piter Supit, salah seorang pedagang pengumpul sapi yang berdomisili di Jalan Pelangi, Kelurahan Tobuha, Kecamatan Puuwatu, Kendari, Senin 29 Agustus 2016.

Keberadaan para pebisnis hewan kurban asal luar Kendari tersebut, kata Piter, menambah tingkat persaingan di antara pencari rejeki dalam dunia bisnis musiman ini. Bukan hanya persaingan antar-pedagang pengumpul lokal, melainkan juga dengan pendatang baru.

Menurut Piter, persoalan kualitas ternak lokal yang masih kalah bersaing, membuat pemain lokal harus berani keluar daerah sekitar Kendari untuk mengimbangi harga dan kualitas ternak yang didatangkan dari luar Sultra.

Karena itu, untuk mencari sapi yang sedikit bisa bersaing, Piter terkadang masuk daerah Konawe Selatan, Muna, dan bahkan sampai ke Kota Baubau. Biasanya kata Piter, selain harganya murah, sapi di daerah tersebut berkualitas bagus.

“Kita bersaing dengan pengusaha dari Makassar, Palopo, dan Enrekang. Karena mereka ini luar biasa kalau jual sapi. Selain postur sapi yang besar harganya juga terjangkau. Kita disini, harus pintar-pintar menggait pembeli. Sapi-sapi ini saya dapatkan dari Muna, Baubau, dan Konsel,” katanya.

Sapi yang didapatkan dibanderol dengan harga yang berfariasi, bergantung pada ukurannya. Jika ukuran kecil, Piter menjualnya dengan harga Rp 7 juta per ekor, sedangkan ukuran paling besar harganya Rp 17 juta.

Biasanya, Piter mencari sapi sesuai pesanan, karena jauh hari sebelumnya, sudah banyak pelanggan yang memesan sapi untuk berbagai ukuran.

Piter mengungkapkan, hadirnya pedagang dari luar mempengaruhi jumlah pesanan yang dia terima dalam setiap tahun. “Biasanya, pada tahun-tahun sebelumnya, kami biasa menjual sampai 150 ekor. Tapi karena sudah banyak pedagang dari luar, penjualan menurun hanya sampai 100 ekor. Itu mulai terasa pada dua tahun terakhir,” katanya.

Lagi-lagi kata Piter, pengaruh kualitas ternak lokal. Karena itu, Piter berharap, pemerintah setempat bisa memperhatikan persoalan ini dengan melakukan langkah-langkah bagaimana meningkatkan kualitas ternak lokal.

Penulis : Kamarudin
Editor   : Jumaddin Arif Tobarani

Facebook Comments
loading...