Pilkada Muna Barat
Suasana di TPS I Desa Sukadamai Kecamatan Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat. (KABARKENDARI/PANDI)

Kabarkendari.com – Untuk pertama kalinya, Muna Barat menggelar pesta demokrasi pada 15 Februari 2017. Meski belum ada penetapan pasangan calon terpilih dari Komisi Pemilihan Umum setempat, namun hasilnya sudah dapat diketahui melalui real count masing-masing paslon atau di website resmi KPU.

Pasangan LM Rajiun Tumada-Ahmad Lamani, tercatat sebagai peraih suara terbanyak. Pasangan ini unggul atas LM Ihsan Taufik Ridwan-La Nika dengan selisih kurang lebih 8 ribu suara.

Selama tahapan pesta demokrasi di Mubar berlangsung, banyak cerita yang bisa dikenang. Misalnya maraknya Operasi Tangkap Tangan terhadap terduga pelaku politik uang.

Puluhan warga rela begadang demi mencegah praktek serangan fajar atau politik uang jelang pemungutan suara. Setiap kendaraan atau orang asing yang melintas akan dicegat, diinterogasi hingga ditangkap bila ditemukan indikasi akan melakukan politik uang.

“Kita tidak punya kepentingan apa-apa. Silahkan memilih siapa pun, asal jangan andalkan uang. Kalau andalkan uang, kita lawan,” ungkap La Ode Umi, seorang tokoh pemuda di Kelurahan Wamelai Kecamatan Lawa Kabupaten Muna Barat.

Pria yang bekerja sebagai mandor pasar ini mengaku, masyarakat Mubar sudah memiliki kesadaran untuk melawan politik uang dalam menentukan pemimpin mereka lima tahun kedepan.

“Kalau kita dibayar hanya untuk memilih calon tertentu, secara tidak langsung kita tidak memiliki harga diri,” ujarnya.

Adapula cerita ketika dalam satu rumah terbelah lantaran berbeda pilihan politik. Suami mendukung nomor 1 dan istri mendukung nomor 2. Kondisi ini masih berlangsung. Kubu-kubuan masih tetap ada. Meski skalanya tidak lagi massif.

Upaya rekonsiliasi dua kubu paslon terus disuarakan, baik melalui media sosial maupun Warung kopi.

“Pesta demokrasi sudah selesai. Kita kembali bersama dan menghilangkan kesan 1 atau 2, biru atau kuning. Saatnya mengawal pemerintahan yang profesional, transparan dan berpihak kepada rakyat,” ajak Nukman, tokoh pemuda di Mubar.

Rekonsiliasi yang dimaksud tentu saja bukan hanya sekedar makan bersama dan saling merangkul, namun yang lebih penting adalah membangun kesadaran bersama untuk melupakan perbedaan politik. Lebih dari itu adalah melanjutkan pembangunan di Muna Barat untuk kesejahteraan masyarakat.

Penulis: La Ode Pandi Sartiman
Editor: Zainal A. Ishaq

Facebook Comments
loading...