tka tiongkok
Beberapa TKA Asal tiongkok sedang mengerjakan tungku pemurnian ore. (KABARKENDARI/PANDI)

Kabarkendari.com – Keberadaan tenaga kerja asing atau TKA asal Tiongkok sempat menjadi pemberitaan hangat di Indonesia akhir-akhir ini.

Di Sulawesi Tenggara, salah satu perusahaan yang banyak mempekerjakan TKA asal Tiongkok adalah PT Virtue Dragon Nikel Internasional atau VDNI yang berada di Desa Puuruy Kecamatan Morosi Kabupaten Konawe.

Berdasarkan pantauan langsung Kabarkendari.com di lokasi PT VDNI di Kecamatan Morosi Kabupaten Konawe, ditemukan ratusan TKA asal Tiongkok yang sedang mengerjakan tungku pemurnian ore.

Berdasarkan informasi dari Direktur PT VDNI Rudi Rusmadi, jumlah TKA asal Tiongkok yang bekerja di perusahaannya sebanyak 942 orang.

Dalam pantauan langsung itu, wartawan sempat berdialog dengan salah seorang TKA asal Tiongkok yang belakangan diketahui bernama Mie Chang.

Namun, Lie tidak bisa menggunakan Bahasa Inggris terlebih bahasa Indonesia. Wawancara baru bisa lancar setelah ada penerjemah yang kebetulan fasih Bahasa Indonesia.

Kepada wartawan, Lie mengaku sudah bekerja di Morosi selama delapan bulan. Di Konawe, dia bekerja sebagai teknisi pembangunan tungku pemurnian ore.

“Saya sudah pengalaman karena saya bekerja di perusahaan seperti ini di Cina,” ungkap Lie melalui penerjemah, Jumat 6 Januari 2017.

Lie mengaku, dengan keahliannya sebagai instalator selular, dia dipercayakan untuk menuntaskan lima tungku yang sedianya selesai Februari 2017.

“Saya pulang setelah lima tungku selesai. Untuk satu tungkunya ini, besok atau lusa sudah selesai,” jelasnya.

Setelah selesai tugasnya itu, kata Lie, dirinya akan kembali ke Tiongkok bersama delapan orang yang datang bersamanya sebelumnya. “Kita dipanggil di sini karena sudah biasa kerjakan ini,” tuturnya.

Lantas berapa gaji yang diterima setiap bulannya? Lie mengaku, setiap bulan dia mendapatkan gaji sekitar Rp 9 juta hingga Rp 10 jutaan.

Soal jumlah gaji mereka ini, ikut dibenarkan oleh Direktur VDNI Rudi Rusmadi. Menurut dia, gaji TKA dan TKL dibedakan. Untuk TKA, gajinya Rp 10 jutaan. Sedangkan TKL, gajinya hanya Rp 4 sampai Rp 5 juta.

“Jadi tidak benar itu kalau ada gaji TKA sampai 90 juta. Siapa yang bisa gaji mereka seperti itu. Gaji mereka di sini, tidak jauh beda dengan di Cina,” ungkapnya.

Perbedaan jumlah gaji ini karena jenis kerja yang berbeda. TKA mengerjakan instalasi tungku pemurnian nikel, sedangkan TKL mengerjakan cor.

Total tenaga kerja yang ada di Morosi, sebut Rudi, sebanyak 1.500 orang. Jumlah itu, sudah termasuk tenaga kerja hari lepas.

Penulis: La Ode Pandi Sartiman
Editor: Jumaddin Arif Tobarani

Facebook Comments
loading...