Dikbud Sultra
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara, Damsid (kiri) dalam Sebuah Rapat. (KABARKENDARI/PANDI)

Kabarkendari.com – Gaji guru honorer di Sulawesi Tenggara bisa dikatakan sangat menyedihkan. Setiap bulan mereka hanya mendapatkan sekitar Rp 220 ribu.

Bila dibandingkan dengan biaya hidup zaman sekarang, gaji mereka hanya bisa membeli beras 25 kilogram.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Sultra Damsid mengaku, gaji guru honorer setiap bulannya di luar batas manusiawi. Namun, pemerintah tidak bisa berbuat banyak di tengah minimnya dana.

“Ini miris sekali dan problem kita memang kekurangan dana untuk membayar gaji guru honorer,” ungkap Damsid, Senin 6 November 2016.

Damsid mengaku, jumlah guru honorer di Sultra untuk tingkat sekolah menengah atas sekitar 3 ribu orang. Selama ini, gaji mereka ditanggung melalui uang komite sekolah.

“Sebelumnya gaji mereka dibayar pakai komite karena tidak bisa menggunakan dana bantuan operasional sekolah atau BOS,” katanya.

BACA JUGA: Dikbud Sultra Larang Guru Memungut Biaya Masuk Sekolah

Dalam setahun, papar dia, Pemprov Sultra mengalokasikan Rp 11 miliar untuk membiayai gaji honorer guru tingkat SMA. Itu pun, kata dia, hitungan honor guru hanya Rp 220 ribu. Lantas bagaimana honorer tingkat SMP dan SD?

“Mereka ditanggung oleh kabupaten atau kota masing-masing,” jelasnya.

Menurut Damsid, guru honorer tidak bisa dihapus. Sebab, tenaga pendidik dari pegawai negeri sipil masih sedikit. Ada beberapa sekolah yang hanya memiliki satu sampai dua guru untuk menangani beberapa kelas dan ratusan siswa.

“Kalau tidak ada honorer, maka tidak akan bisa jalan pendidikan,” ungkapnya.

Ke depan, untuk menanggulangi keluhan guru honorer, Diknas berencana mentaktisi bantuan operasional pendidikan atau BOP.

“Kita juga akan bicarakan kembali bantuan operasional sekolah untuk bisa dialokasikan untuk gaji guru honorer. Macam-macam cara sekolah menyelesaikan masalah ini. Memang, menyedihkan, antara ditinggalkan atau mau dibayar honor mereka,” tuturnya.

Penulis: La Ode Pandi Sartiman
Editor: Jumaddin Arif Tobarani

Facebook Comments
loading...