Gerakan Mahasiswa di Sultra
Direktur Eksekutif LDKJ, Jumwal Shaleh, menyerahkan piagam kepada Dr. Najib Husain dalam diskusi yang digelar LDKJ bekerjasama dengan Sulawesi Tenggara Demokrasi dan Monitoring (Sultra-Demo), Sabtu 10 Desember 2016 di Hotel Kubra Kendari. (KABARKENDARI/PANDI)

Kabarkendari.com – Lembaga Diskusi dan Kajian Jurnalis (LDKJ) Sulawesi Tenggara menyoroti fenomena pergeseran nilai gerakan mahasiswa di Bumi Anoa.

Perkembangan globalisasi pasca gerakan reformasi 1998 ditengarai memberi andil dalam memunculkan sikap mahasiswa yang cenderung materialisme dan hedonis.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi yang digelar LDKJ bekerjasama dengan Sulawesi Tenggara Demokrasi dan Monitoring (Sultra-Demo), Sabtu 10 Desember 2016 di Hotel Kubra Kendari.

Direktur Eksekutif LDKJ, Jumwal Shaleh, mengatakan dua hal yang membuat gerakan mahasiswa saat ini mengalami pergeseran nilai. Pertama, aturan dan regulasi kampus yang terkesan mengungkung semangat mahasiswa untuk berorganisasi.

“Kedua, perkembangan globalisasi saat ini memunculkan sikap mahasiswa yang materialisme dan hedonis. Degradasi gerakan mahasiswa ini sejak masuk 2000-an,” paparnya.

Menurut Jumwal, dua hal itu jelas mempengaruhi kehidupan dan cara pandang mahasiswa, mengikis fungsi mahasiswa sebagai agen pembaharu dan kontrol sosial.

Jumwal berharap, di tengah terpaan modernisasi ini, mahasiswa dan aktivis tetap pertahankan nilai idealismenya dan memberikan sumbangsih positif kepada masyarakat banyak.

“Kalau ada kebijakan pemerintah mahasiswa harus tampil kritis tapi dalam gerakan positif. Jangan transaksional,” harapnya.

Sementara itu, pengamat politik Universitas Halu Oleo Najib Husain mengakui gerakan mahasiswa saat ini cenderung materialisme.

“Mahasiswa Lebih banyak ditemukan di lipo dan kafe dibanding di lokasi diskusi,” sebutnya.

Berdasarkan hasil survei, tujuan mahasiswa kuliah kebanyakan hanya untuk bisa cepat dapat kerja dengan IPK tertinggi.

Penulis: La Ode Pandi Sartiman
Editor: Zainal A. Ishaq

Facebook Comments
loading...