spa sepkta kendari
Dipekerjakan tidak sesuai dengan perjanjian sebelumnya, Alda dan teman-temannya kabur dari tempat kerja. (KABARKENDARI/EGI)

Kabarkendari.com – Enam orang perempuan karyawan Spa Spekta di Kota Kendari melarikan diri dari tempat kerja mereka dengan cara memanjat pagar.

Pemicunya, mereka mengaku dipekerjakan tidak sesuai dengan perjanjian sebelumnya. Diduga, keenam perempuan itu menjadi korban penjualan manusia.

Keenam wanita tersebut diketahui bernama Alda, Rini, Asri, Dede, Defa dan Risna. Mereka kabur dari spa spekta pada Kamis 15 Desember 2016 lalu.

Setelah berhasil melewati tembok pagar Spa mereka bersembunyi disebuah kamar kos di Jalan Made Sabara, Kota Kendari. Dua hari dalam pelarian, mereka akhirnya ditemukan bosnya.

Sabtu 17 Desember 2016, mereka akhirnya dijemput pihak perusahaan bersama dua anggota Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara.

Mereka diminta kembali bekerja di Spa Spektra sekaligus membicarakan masalah kontrak. Namun para perempuan ini menolak dengan alasan piak spa Spektra belum membayar gaji mereka selama lima bulan terakhir. Bahkan kontrak yang dijanjikan belum juga mereka terima.

“Kami tidak mau, nanti kami dimarahi lagi. Buat apa kembali kesana. Kami selalu mendapatkan perlakuan tidak wajar. Kerja diluar kontrak, gaji selalu dipotong dengan alasan tidak jelas. Katanya untuk sakit, tapi setelah kami sakit uang potong tidak diberikan,” keluh Alda dihadapan bosnya H. Abdul Rahim.

Setelah melalui negosiasi yang alot, Alda dan teman-temannya akhirnya dipulangkan kembali di penginapan mereka.

“Kami dipaksa untuk kembalikan uang. Kami juga diminta untuk tidak bekerja lagi di Sulawesi. Pokoknya Sulawesi mana saja, yang pasti katanya kami tidak boleh lagi kerja di Sulawesi. Kami berpikir, ini spa spektra ibarat pemilik daerah,” keluh Alda.

Alda dan kelima rekannya mulai bekerja di Spa Spektra pada Juli 2016 lalu. Dalam perjanjian, mereka akan kerja dari Jam 10.00 Wita dan berakhir Jam 00.00 Wita.

Dalam prakteknya, perjanjian tinggal perjanjian. Mereka justru bekerja sebelum jam 10.00 Wita. Mereka juga kerap diperlakukan secara kasar seperti mendapat makian.

“Belum lagi gaji kami yang sistim fee, sekali kerja dipotong Rp 200 ribu. Katanya untuk uang kesehatan, uang ulang tahun dan segala macam. Tapi setelah kami sakit, pakai uang sendiri. Uang potongan tidak jelas dimana,” jelasnya.

Pemilik Spa Spekta, H. Abdul Rahim, mengatakan jika perkataan Alda Cs tidak benar. Menurutnya tidak ada masalah di Spa Spekta dan tidak perlu ada klarifikasi.

“Soal uang Rp 1 juta kemarin itu karena mereka sudah kami kontrak dari Jakarta selama setahun. Tapi belum cukup setahun sudah lari. Jadi yah harus kami mintai ganti rugi,” katanya.

Sementara soal pemotongan gaji Abdul Rahim mengklaim tidak ada masalah. Sebab, pemotongan itu memang sudah sesuai perjanjian awal di Jakarta.

“Soal kontrak memang Alda Cs tidak memegang kontrak karena kontrak tersebut langsung di Jakarta bersama agen atau bos Alda Cs,” katanya.

Penulis: Kamarudin
Editor: Zainal A. Ishaq

Facebook Comments
loading...