Gunung Mekongga. (INT)

……….
Nasib terbaik adalah tak pernah dilahirkan
Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda

Mahluk kecil…
Kembalilah dari tiada ke tiada…
Berbahagialah dalam ketiadaan mu…

Penggalan puisi berjudul “Mati Muda” ini begitu akrab ditelinga para pendaki. Pesan kematian sang penulis puisi seperti menjadi tidak penting. Orang terlanjur mengagumi sosok Soe Hok Gie. Gie sebagai aktivis idealis. Gie sebagai legenda Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala).

Kematian Gie di Semeru tidak lantas mematikan semangat penaklukkan gunung di Indonesia. Para pendaki justru seperti makin tertantang untuk terus menaklukkan setiap puncak demi puncak gunung di Tanah Air. Aktivitas ekstrim itu menular pula di Bumi Anoa, Sulawesi Tenggara.

Lalu kabar duka itu akhirnya tiba. Senin 13 Maret 2017, dua pendaki asal Kendari ditemukan Tim SAR dalam kondisi telah terbujur kaku di Gunung Mekongga. Edi dan Toto diduga tak mampu melawan hipotermia yang menggerogoti tubuh mereka setelah diterpa badai.

Edi dan Toto memulai perjalanan dari Kota Kendari pada Jumat 3 Maret 2017. Selain mereka berdua, tergabung pula dalam rombongan itu Rohim, Lili, La Ode, dan Khairat. Rombongan pendaki ini tiba di Desa Tinokari, Sabtu 4 Maret 2017.

Sesampainya di Desa Tinokari, mereka segera melaporkan rencana pendakian Gunung Mekongga kepada Kepala Desa. Keesokan harinya, Minggu 5 Maret 2017, pendakian dimulai. Desa Tinokari sendiri merupakan Pos pertama dalam rute Pendakian Gunung Mekongga. Saat itu cuaca sedang tidak bersahabat bagi pendaki.

Ketegangan menyeruak ketika pada Jumat 10 Maret 2017 ketika Rohim dan Lili tiba-tiba muncul dengan nafas tersengal di Desa Tinokari. Dalam kondisi yang lemah keduanya melaporkan ke Pos SAR Kolaka bahwa empat orang temannya membutuhkan pertolongan darurat.

Karena cuaca buruk misi penyelamatan baru dapat dilakukan pada Sabtu 11 Maret 2017. Setelah seharian menembus belantara Mekongga, Senin 13 Maret 2017 Tim SAR menemukan La Ode dan Khairat diantara Pos 6 dan Pos 7.

“Dua orang pendaki yang sudah dievakuasi bernama La Ode Mufazir dan Khairat Umayah Said. Keduanya dievakuasi di antara Pos 6 dan Pos 7, dalam keadaan selamat,” kata Wahyudi, Humas Basarnas Kendari, Senin 13 Maret 2017.

Disaat bersamaan Anggota Tim SAR Kolaka lainnya menuju ke Pos 8. Disinilah Edi dan Toto ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa lagi. Jasad keduanya terpisah beberapa meter. Jasad keduanya baru bisa dievakuasi keesokan paginya.

Untuk pertama kalinya Gunung Mekongga menelan korban jiwa setelah jalur pendakian di gunung dengan julukan “Kerajaan Jin” itu dibuka oleh Mahasiswa Pecinta Alam (Mahacala) Universitas Halu Oleo Kendari pada tahun 1995.

Teka-teki penyebab kematian dua pendaki muda itu belum terjawab. Imran Tumora, salah seorang senior di Mahacala UHO Kendari menuturkan, kecelakaan pendakian bisa terjadi jika pendaki mengabaikan manajemen pendakian.

Imran yang merupakan salah seorang yang terlibat dalam ekspedisi pembukaan jalur pendakian Gunung Mekongga pada tahun 1995, mengingatkan kepada para pendaki agar sebelum melakukan pendakian sebaiknya mendapatkan informasi yang lengkap tentang daerah yang hendak dituju baik medan, panjang rute, sumber air, atau yang lainnya.

“Mengenali kegiatan yang akan ditempuh bergerak, makan, tidur, penelitian, atau lama perjalanan, tujuan perjalanannya, dan bahkan mengenali kemampuan diri dalam tim dalam menghadapi medan itu penting,” kata lelaki yang akrab disapa Ime.

Sebenarnya, kata Ime, manajemen pendakian adalah materi dasar dalam kegiatan kepencita-alaman. Hal ini tidak bisa dikesampingkan dan merupakan hal utama pada proses pendakian.

Infografis Pendakian Mekongga
Infografik oleh: Muh. Hajar Syiddiq

“Tujuannya agar kita sebagai pencita alam, dalam hal melaksanakan kegiatan pendakian bisa berjalan dengan baik dan benar. Intinya keselamatan diri,” tegasnya.

Adrian Kenepulu, juga senior Mahacala UHO, menduga penyebab kematian Edi dan Toto karena human eror.

Alasannya, kedua pencinta alam ini bersama empat orang rekannya yang selamat sebenarnya tahu dan telah melaksanakan manajemen pendakian tersebut. Untuk manajemen perjalanan, manajemen logistik dan teknik-tenik pendakian pasti diketahui oleh mereka.

“Kalau saya melihat ini hanya human eror saja. Soal penguasaan medan sebenarnya di Gunung Mekongga itu semua orang tahu. Apalagi sebagai kader pencita alam. Terutama navigasi pasti diketahui oleh adik-adik saya yang menjadi korban ini,” katanya.

“Tiap kegiatan ada briefing, bisa saja berubah kegiatannya karena ada persoalan-persoalan teknis tetapi ini bisa diatasi. Kembali ke pernyataan saya tadi, bahwa terjadinya masalah dipendakian Mekongga hanyalah human eror saja,” tegasnya.

Soal hipotermia yang menyebabkan Edi dan Toto meregang nyawa, menurut Adri, bisa benar dan bisa juga salah. Hal itu berdasarkan pengalamannya saat membuka jalur pendakian gunung Mekongga.

“Cuaca Mekongga tidak ada yang ekstrem. Dipuncak itu suhunya 5 derajat. Tetapi kadang berubah lagi, jadi kalau saya menganalisa, meninggalnya dua kawan kita ini karena pertama kondisi fisik lemah akibat asupan makanan kurang. Kedua karena panik yang menyerang jiwa kita sehingga membuat seluruh badan lemah dan terserang hipotermia,” jelasnya.

“Medannya tidak ada yang ekstrem. Tetapi kalau cuaca berubah itu mempengaruhi jarak pandang saja. Jadi kalau untuk Edi dan Toto ini bisa jadi ada penyakit bawaan juga. Sehingga cuaca hujan sedikit mempengaruhi keadaan tubuh mereka,” analisanya.

Ciko, anggota Mapala Tropis Fakultas Pertanian UHO, juga mengingatkan pentinganya urusan manajemen pendakian. Ia telah dua kali menaklukkan Gunung Mekongga. Dari pengalamannya itu, urusan administrasi dan kesiapan fisik menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.

“Saat itu tugas saya bersama empat orang rekan adalah memastikan segala pengurusan administrasi dan perizinan ke berbagai pihak di Kendari dan Kolaka Utara. Tujuannya agar kegiatannya diketahui oleh publik,” katanya.

Selanjutnya setelah mengurus administrasi tersebut, yang paling utama yang disiapkan pendaki adalah fisik. Hal ini, tidak bisa dikesampingkan karena fisik adalah suatu hal utama. Jika fisik tidak baik, maka jangan coba-coba mendaki gunung.

“Selain fisik pastinya kita harus kuat mental, tahu kemampuan SAR, hubungan kerja sama tim itu kita harus lakukan. Terus setelah ini yah kita persiapkan segala keperluan seperti peralatan, logistik, dan keperluan-keperluan lainnya,” bebernya.

Bicara Hipotermia, dijelaskan Ciko pernah ia alami sewaktu mendaki ditahun 2013. Ia mampu melewati masa hipotermia karena tidak panik.

“Waktu itu saya cepat-cepat siapkan tenda kemudian segera hangatkan badan. Alhamdulilah kita semua tetap selamat sampai dengan pulangnya,” kenangnya.

Dalam kasus Edi dan Toto yang harus terpisah dengan rombongannya, Ciko tak mau berspekulasi. Menurutnya, setiap pendaki bisa mempunyai penjelasan berbeda-beda. Sebab keputusan meminta bantuan saat situasi darurat ada ditangan para pendaki sendiri.

“Keputusan ini diambil diatas gunung. Apakah teknisnya harus ada yang turun meminta bantuan itu disimpulkan diatas. Tetapi kalau saya, prinsip dasar seorang pendaki, pergi bersama pulangpun harus bersama. Ini prinsip pendaki,” tegasnya.

Gunung Mekongga Memang Menantang
Pegunungan Mekongga membentang di sisi utara Kabupaten Kolaka, dengan ketinggian 2.620 mdpl, merupakan gunung tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Puncaknya tersusun dari batuan karst dengan dataran tinggi. Puncaknya berbentuk kubah yang luas. Di sini terdapat goa-goa dengan stalagmit dan stalagtit nan indah.

Wikipedia menyebut, secara geologis wilayah Pegunungan Mekongga terbentuk dari atol yang diperkirakan terangkat sekitar ratusan juta tahun yang lalu.

Hutan tropis dengan vegetasi kayu berlumut yang menyelimutinya, menjadikannya rumah bagi beragam jenis flora dan fauna endemik.

Menurut bahasa warga setempat (etnis Tolaki) Mekongga berarti elang raksasa. Warga juga percaya bahwa tebing gunung berwarna putih (karst) sebagai wilayah kerajaan jin.

Jalur Pendakian Gunung Mekongga pertama kali di rintis oleh Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Halu Oleo Kendari pada tahun1995. Jalur inilah yang terus digunakan para pendaki sampai sekarang.

Sejak itu Gunung Mekongga selalu menantang untuk ditaklukkan para pendaki. Untuk menuju puncak Gunung Mekongga, kini dapat ditempuh melalui dua jalur. Pertama melalui tebing karst dan kedua memotong jalu disisi kanan tebing.

Ada delapan pos yang harus dilewati para pendaki sebelum sampai ke puncak Mekongga. Pos satu yaitu Desa Tinokari, Pos dua adalah sebuah Rumah Kebun, Pos tiga terletak di Pepohonan Rindang, Pos empat tak jauh dari Tugu Sulawesi, Pos 5 di Bekas Landasan Helikopter, Pos enam di tepi Danau Kokakola, Pos tujuh di Batu Meriam dan Pos delapan di Kaki Gunung Mekongga.

Diantara delapan pos tersebut terdapat tiga tiga titik kamp pendakian yaitu, Kamp Satu di lokasi Bekas Pembibitan HBI, Kamp Dua di tepi Anak Sungai Tinokari dan Kamp Tiga terdapat di Titik Air Terakhir, Antara Pos 7 dan Pos 8.

Mendaki Gunung sebagai Gaya Hidup
Ada banyak alasan untuk melakukan aktivitas yang satu ini. Namun bagi pendaki gunung professional, kegiatan mendaki gunung bukan sekedar misi penaklukkan. Mendaki gunung juga biasanya dilakukan untuk kepentingan penelitian. Sehingga untuk melakukan sebuah pendakian dibutuhkan perencanaan yang matang. Mulai dari manajemen perjalanan, peralatan, pemetaan dan tentu saja persiapan fisik.

Belakangan aktivitas mendaki gunung menjadi sebuah gaya hidup. Persiapan tidak lagi menjadi perhatian utama. Manajemen pendakian cenderung diabaikan. Asalkan punya niat dan memiliki telepon pintar, pendakian sudah bisa dilakukan. Selfie selalu menjadi misi utama. Lalu muncullah istilah pendaki kertas, pendaki status, dan macam-macam lagi istilah bagi pendaki dadakan.

Pendaki kertas biasanya memiliki misi tersendiri. Biasanya setelah mencapai puncak gunung pendaki kertas segera mengeluarkan kertas bertuliskan kata-kata manis yang ditujukan kepada seseorang. Lalu…. Jepret. Muncullah foto profil sang pendaki kertas di media sosial.

Lain lagi dengan pendaki status. Misinya kurang lebih sama dengan pendaki kertas. Namun kalimat yang digunakan biasanya dibuat agar pembacanya bisa mengagumi sisi religiusitasnya. Biasanya statusnya berbunyi “dan nikmat tuhan mana lagi yang kamu dustakan”.

Namun apapun misimu saat melakukan pendakian, sebaiknya jangan pernah lupakan yang namanya manajemen pendakian, logistik, pemetaan, kondisi cuaca dan yang terpenting kesiapan fisik.

Jika belumlah engkau paham arti kematian, cobalah ingat kembali pesan kematian Gie dalam puisinya yang dibalut dengan indah kata-kata.

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah…
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di iraza…
Tapi aku ingin menghabiskan waktu ku di sisi mu, sayangku…

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu…
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi…

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau…
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biapra…
Tapi aku ingin mati di sisi mu, Manis ku…

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya…
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu…

Mari sini sayang ku…
Kalian yang pernah mesra,
Yang pernah baik dan simpati pada ku..
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung…

Kita tak pernah menanamkan apa-apa…
Kita tak kan pernah kehilangan apa-apa…

Gie yang keren itu memang mati dalam usia muda. Ia menghembuskan nafas terakhir setelah dihantam badai saat pendakian Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa (3.676 mdpl) pada tahun 1969 dalam usia 26 tahun.

Penulis: Kamaruddin
Editor: Zainal A. Ishaq

Facebook Comments
loading...