Contoh Kemacetan di Salah Satu Ruas Jalan Kota Kendari.
Contoh Kemacetan di Salah Satu Ruas Jalan Kota Kendari. (FOTO: www.facebook.com)

Kabarkendari.com – Persoalan kemacetan selalu menjadi konsekuensi sebuah daerah sedang berkembang. Kota Kendari sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang sedang berkembang mulai diwarnai dengan masalah itu. Kemacetan mulai dijumpai pada jam-jam tertentu di beberapa titik di daerah berjuluk Kota Lulo tersebut.

Dinas Perhubungan (Dishub) Sultra muai tanggap dengan potensi itu. Kadishub Sultra Hado Hasina mengatakan, pihaknya sudah merencanakan berbagai hal untuk mengantisipasi kemacetan di Kota Kendari.

Sebagai ibu kota provinsi, kata dia, potensi kemacetan di Kota Kendari sudah harus dipikirkan sejak dini. Jika tidak, maka kata dia, bukan sesuatu yang mustahil Kendari akan seperti Jakarta dan Makassar.

“Solusinya adalah pembangunan transportasi massal berbasis jalan. Kita ingin mengajak masyarakat Kota Kendari untuk beralih dari transportasi pribadi ke transportasi massal,” ungkap Hado Hasina di gedung DPRD Sultra, Jumat 6 Oktober 2016.

BACA JUGA: Tiga Kecelakaan Malam Minggu di Kendari

Untuk meyakinkan masyarakat bisa beralih ke transportasi massal, pemerintah harus menyiapkan infrastrukturnya. Saat ini, kata dia, Pemprov Sultra telah mengoperasikan moda transportasi massal sebanyak tiga unit bus. Namun, baru melayani rute Pelabuhan Nusantara-Bandar Udara Haluoelo.

“Di kota ini ada halte. Di setiap halte, ada tempat penitipan kendaraan. Sehingga, untuk bepergian di mana saja, bisa naik transportasi massal dan kendaraannya dititip sementara. Tentu, infrastrukturnya harus siap. Keamanannya juga harus dijamin. Adanya halte ini, bisa ikut menambah pendapatan daerah. Karena bisa juga dipungut biaya lainnya,” ujarnya.

Selanjutnya, kata dia, integrasi terminal juga perlu dilakukan. Sebab, selama ini terminal di Kota Kendari belum maksimal. Kendaraan, masih parkir di mana saja.

Ketiga, penerapan analisis dampak lalu lintas bagi seluru pembangunan di Kota Kendari. Hampir semua bangunan di Kota Kendari, sebut dia, belum ada andalalinnya. Untuk itu, dalam waktu dekat ini, Dishub Sultra akan mengundang seluruh pemerintah kabupaten dan kota untuk membahas andalalin ini sebagai bentuk mengantisipasi kemacetan kota.

“Setiap pembangunan yang menjadi pusat bertemunya orang banyak harus ada andalalinnya. Contoh, pusat perbelanjaan. Seperti di Pasar Baru itu harusnya punya andalalin. Sebab, kalau tidak, kemacetan tidak akan dihindari nanti,” bebernya.

Lantas bagaimana dengan pembangunan fly over? Oleh mantan Kadis Pekerjaan Umum Kabupaten Buton Utara ini menilai, pembangunannya di Kota Kendari ini belum bisa.

“Itu belum menjadi solusi untuk kota kecil. Kalau sudah terpaksa bisa saja. Namun, membangun fly over ini butuh biaya banyak,” tuturnya.

Penulis: La Ode Pandi Sartiman
Editor : Jumaddin Arif Tobarani

Facebook Comments
loading...