Abdul Rasak & Muhammad Zayat Kaimoeddin
Dua bakal calon Walikota Kendari, Abdul Rasak (kiri) dan Muhammad Zayat Kaimoeddin, terlibat diskusi dalam sebuah kegiatan. Muhammad Zayat Kaimoeddin atau Derik merupakan salah satu calon yang diusung Partai Demokrat di Pilwali Kendari. (KABARKENDARI/PANDI)

Kabarkendari.com – Status Muhammad Zayat Kaimoeddin sebagai mantan koruptor tiba-tiba menggelinding. Hal itu tentu saja merugikan posisinya sebagai salah satu bakal calon Wali Kota Kendari. Untuk menetralkan hal tersebut , politisi Partai Demokrat, Umar Arsal, angkat bicara.

Anggota DPR RI dapil Sultra ini menganggap isu yang dihembuskan pada detik-detik jelang pendaftaran di Komisi Pemilihan Umum, merupakan kategori kampanye hitam. Ia pun menyayangkan adanya oknum atau kelompok tertentu yang menghembuskan hal itu.

“Sebagai Krowil Demokrat, kami sangat sayangkan. Ini juga tidak fair bila beliau dihantam dengan isu itu,” ungkap Umar Arsal saat ditemui di Kendari, 6 September 2016.

Umar mengatakan Muhammad Zayat Kaimoeddin yang akrab disapa Derik, memiliki hak untuk maju pada Pilwali 2017 meskipun pernah dipidana akibat kasus korupsi. Menurutnya, aturan tidak ada yang melarang selama putusannya di bawah lima tahun.

“Kita cukup fair bertarung saja. Dia juga punya hak dan tidak ada aturan yang melarang,” jelasnya.

Memang, kata Umar, saat ini DPR RI tengah melakukan revisi terhadap UU Pilkada tentang calon mantan koruptor. Hanya saja, Umar optimis aturan itu hanya akan membatasi bagi terpidana korupsi yang pidananya diatas lima tahun.

Ia menyebut, DPP Demokrat tidak akan lagi mengubah keputusannya mengusung Derik di Pilwali. Bila ada pembicaraan tentang pencalonan, Korwil dan Ketua DPD Demokrat Sultra pasti akan dipanggi lebih dulu.

Salah satu alasan Demokrat mengusung Derik di Pilwali Kendari adalah putra mantan Gubernur La Ode Kaimoeddin itu telah menapaki karir dari bawah. Sehingga, dianggap mumpuni memimpin Kota Lulo ini.

Penulis: La Ode Pandi Sartiman
Editor: Zainal A. Ishaq

Facebook Comments
loading...