Anak Sekolah
Bocah kakak beradik, Risnawati (11) dan Riswandi (9) Nampak sedang Menjajakan Jualan Jagung Rebus. (KABARKENDARI/PANDI)

Kabarkendari.com – Untuk memenuhi biaya sekolah, bocah kakak beradik, Risnawati (11) dan Riswandi (9) rela menjual jagung rebus keliling.

Risnawati duduk di kelas 4 Sekolah Dasar Negeri (SDN) 19 Baruga. Sedangkan adiknya, Riswandi, duduk di kelas 3 di sekolah yang sama.

Sore sekitar pukul 17.30 Wita, tak tampak rasa malu di wajah Risna dan Riswan saat menjunjung dan menjajakan jualannya di Kabarkendari.com, Selasa 1 November 2016.

Mereka terlihat cepat akrab dan mau diajak berbincang cukup lama dengan kru Kabarkendari.com.

Risna berkisah, jualan jagung merupakan rutinitasnya setiap waktu lowong di sore hari. Bila teman-temannya yang lain pergi bermain, dia lebih memilih berjualan dengan adiknya.

BACA JUGA: Bocah Lampu Merah, Hidup di Jalanan Demi Sekolah

Keduanya jualan jagung rebus, selepas pulang sekolah. Sekitar pukul 16.00 Wita, mereka sudah berangkat dari rumahnya di Lepolepo dengan menumpang mobil pete-pete, lalu turun di Jalan Saosao Kendari.

“Kita bayar Rp 2.000 per orang kalau naik mobil,” ungkapnya polos saat diajak berbincang.

Risna mengaku, selain ingin membantu ibunya, hasil jualannya biasa disisihkan untuk jajan. Ibunya yang sehari-hari jualan jagung, sayur dan membuat atap rumbia tidak mampu memberinya uang jajan. Begitu pula ayahnya yang kerjanya sebagai kuli bangunan tak menentu, tak memiliki banyak uang.

“Saya jualan mau sendiri. Untuk tambahan uang jajan,” ujarnya.

Risna mengaku tidak malu harus jualan jagung, meski pun dia selalu mendapatkan ejekan dari teman-temannya. “Saya tidak masalah, toh ada uangku juga,” selorohnya.

Setiap hari, masing-masing bocah ini membawa sekitar 30 tongkol jagung dengan cara dijinjing.

Jika jualannya belum habis, mereka harus rela menembus dingin dan gelapnya malam mencari pembeli yang simpati. Kadang mereka pulang pukul 20.30 Wita.

“Kita tidak takut karena sudah biasa begini pulang malam habis jualan,” paparnya.

Setibanya di rumah, mereka harus kembali belajar untuk persiapan pelajaran esok harinya. “Kalau sudah capek, biasa langsung tidur,” katanya sembari tertawa.

Penulis: La Ode Pandi Sartiman
Editor : Jumaddin Arif Tobarani

Facebook Comments
loading...