bulog sultra
Kepala Divre Bulog Sultra, La Ode Amijaya Kamaluddin. (KABARKENDARI/KASMAN)

Kabarkendari.com – Badan Urusan Logistik Divisi Regional Sulawesi Tenggara tidak lagi membiarkan beras hasil petani lokal Sultra dibranding oleh provinsi lain. Kepala Divre Bulog Suktra La Ode Amijaya Kamaluddin mengatakan, biasanya beras dari Sultra diambil atau dibeli oleh Makassar, Sulawesi Selatan, kemudian dibranding dan dijual lagi ke Kendari.

“Saat ini Bulog sudah bisa menyerap seluruhnya, jadi kita inginkan Sultra bisa memproduksi sendiri berasnya dan menjualnya sendiri,” ujarnya.

Amijaya mengungkapkan, pihaknya telah melakukan beberapa cara untuk menyerap beras hasil petani Sultra, yakni Bulog membeli langsung lewat satuan kerja, bermitra dengan penggilingan, Bulog hadir di tengah-tengah sawah membiayai semua proses produksi sampai panen hasilnya dibeli kembali oleh Bulog.

Selain itu, tambah dia, pihaknya juga telah menyiapkan kemasan khusus untuk beras lokal Sultra dengan nama Konawe Kita dan Mekongga Kita.

“Untuk upaya repacking beras unggulan dari daerah Sultra, kita packing dengan memunculkan branding daerah supaya Sultra juga punya komoditas unggulan,” tandasnya.

Nama tersebut, jelas Amijaya, sesuai dengan daerah penghasil beras di Sultra. Yakni, Mekongga di dalamnya termasuk Bombana, Poleang, Kolaka dan Kolaka Timur. Sementara, Konawe termasuk Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara dan Kota Kendari.

Bulog Sultra, beber dia, membeli ke petani dengan harga bervariasi. Gabah kering panen dibeli dengan harga Rp 3.700 per kilogram sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian, sementara beras dibeli dengan harga Rp 7.300 per kg sesuai dengan Instruksi Presiden.

Amijaya menyebut, beras itu kemudian menjadi stok nasional dan menjualnya melalui operasi pasar dengan harga eceran tertinggi atau HET yang sudah ditentukan sebesar Rp 7.900 per kg.

“Selisih dari harga beli dan harga jual, itulah biaya operasional untuk melaksanakan operasi pasar. Jadi tidak ada keuntungan,” tuturnya.

Penulis : La Ode Kasman
Editor  : Jumaddin Arif Tobarani

Facebook Comments
loading...