Lumba-lumba Teluk Kendari
Enam ekor lumba-lumba berhasil dievakuasi saat terperangkap masuk diperairan Teluk Kendari karena pendangkalan namun satu ekor dipastikan mati setelah terdampar beberapa jam. (KABARKENDARI/Suwarjono)

Kabarkendari.com – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tenggara, Boy Ihwansyah, mengungkapkan, kerusakan lingkungan Teluk Kendari sudah sangat parah. Teluk Kendari mengalami pendangkalan 11 cm per tahun.

“Teluk Kendari adalah sudah seperti tempat pembuangan akhir. Tingkat kerusakan lingkungan di Teluk Kendari sudah sangat parah. Dari hasil peneleitian yang dilakukan, sedimentasi teluk mencapai 11 cm per tahun,” ujar Boy.

Tambang Sultra
Boy Ihwansyah, Kepala PBD Sultra. (KABARKENDARI/KASMAN)

Dia membeberkan, saat ini kedalaman Teluk Kendari, terutama di muara sungai tinggal sekitar antara 90 cm hingga 1,1 meter. Padahal, kata Boy, berdasarkan foto-foto dokumentasi yang ada di museum, dahulu kapal Belanda bermuatan 30 ton bisa berlayar keluar masuk teluk.

“Jadi bisa dibayangkan, jika kapal Belanda tonase 30 ton bisa masuk ke dalam teluk berarti kedalaman minimal enam meter.”

“Nah inilah salah satu penanganan penyebab banjir adalah kita berusaha untuk mengembalikan normalisasi teluk dan revitalisasi teluk melalui pembuatan kantong dan pengerukan lumpur,” tambah Boy.

Boy membeberkan, tahun ini BPBD Sultra telah mendirikan empat kantong lumpur yang menyedot anggaran Rp 16 miliar.

“Empat kantong lumpur itu dibuat dengan luasan bervariasi. Ada yang 25 x 50 m, ada 20 x 70 m. Namun volumenya tetap sama meskipun dimensinya berbeda,” tutupnya.

Penulis: La Ode Kasman
Editor : Jumaddin Arif Tobarani

Facebook Comments
loading...