Bayi Kembar Gizi Buruk
Nur Aisyah dan Nur Azizah, Sepasang bayi kembar perempuan penderita Gizi Buruk asal Desa Saponda Laut, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Setelah menjalani perawatan selama 21 hari, Nur Aisyah Ramadani, meninggal dunia Selasa 26 Juli 2016.(KABARKENDARI/Suwarjono)

Kabarkendari.com – Sepasang bayi kembar perempuan asal Desa Saponda Laut, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, kondisinya sangat memprihatinkan akibat gizi buruk.

Berat badan keduanya jauh di bawah normal, masing-masing 1,8 kilogram dan 2,8 kilogram.

Bayi kembar bernama Nur Aisyah dan Nur Azizah itu kini tergolek lemah di salah satu ruangan khusus Rumah Sakit Umum Daerah Bahteramas Sultra, akibat penyakit yang dideritanya. Keduanya baru berumur satu bulan.

Dewi (19), orangtua si kembar menyatakan, kedua putrinya memang tidak mendapatkan asupan gizi cukup sejak di dalam kandungan. Alasannya faktor ekonomi. Ditambah lagi, sejak lahir, keduanya hanya diberi susu formula, tanpa asupan ASI dari ibunya.

Kini, Senin (18/07/2016), kedua bayi kembar dari pasangan Suding dan Dewi itu dalam kondisi kritis dan sedang dalam penanganan medis pihak RSUD Bahteramas.

Dengan kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan, kedua orang tua bayi kembar penderita gizi buruk tersebut, hanya bisa pasrah. Mereka berharap ada uluran tangan untuk membantu meringankan beban biaya perawatan selama di rumah sakit.

“Kami masuk di sini (RSUD Bahteramas) mulai tanggal 11 Juli. Suami saya tidak punya pekerjaan, saya hanya seorang ibu rumah tangga. Selama ini kami hidup bersama orangtua,” ungkap Dewi, kepada kabarkendari.com, Senin (18/07/2016).

Humas rumah sakit umum daerah  Bahteramas, Masita, mengatakan, kedua bayi kembar tersebut mengalami gizi buruk karena tidak ada asupan gizi yang memadai.

Selain itu, kata dia, pihak keluarga tidak memelihara kesehatan lingkungan sehingga berdampak pada terganggunya kesehatan anak.

Kini, Senin 18 Juli 2016, kedua bayi kembar dari pasangan Suding dan Dewi itu sedang dalam kondisi kritis dan sedang dalam penanganan pihak medis. Pihak rumah sakit, lanjut dia, memberikan pelayanan khusus kepada kedua pasien, termasuk memberikan kompensasi biaya perawatan karena kondisi ekonomi keluarga yang tergolong miskin.

Penulis: Jumaddin Arif Tobarani

Facebook Comments
loading...