amirul tamim
Anggota DPR-RI Dapil Sultra, Amirul Tamim. (KABARKENDARI/PANDI)

Kabarkendari.com – Sikap Kantor Imigrasi Kendari yang terkesan melakukan pembiaran terhadap adanya dugaan Tenaga Kerja Asing Ilegal di Sulawesi Tenggara disesalkan anggota DPR RI Dapil Sultra, Amirul Tamim.

Menurut Amirul Tamim, harusnya apparat yang diberi tanggung jawab oleh Undang-Undang harus bekerja secara profesional.

Setiap Warga Negara Asing dan Tenaga Kerja Asing wajib diawasi oleh Imigrasi. Jika mereka melanggar aturan maka harus berlakukan aturan secara tegas

“Pihak berwenang seperti imigrasi harus jeli melihat bagaimana aturan masuknya WNA atau TKA. Kalau visa kunjungan dan melakukan kerja yah itu kesalahan. Seharusnya dilakukan deportasi secepatnya,” kata Amirul.

Menanggapi alasan Imigrasi yang mengatakan tidak dilakukan deportasi karena alasan kemanusiaan, Amirul mengatakan hal ini juga merupakan kekeliruan.

Yang berhak menjawab hal itu katanya harusnya kepolisian ataupun TNI. Karena untuk mencegah adanya ancaman negara maka itu ranah penegah hukum.

“Yang kami tahu visa kunjungan itu memang tidak bisa dijadikan bekerja. Harus dideportasi memang,” katanya.

Mantan Walikota Baubau ini juga mengakui jika saat ini Sulawesi Tenggara menjadi daerah investasi dan membutuhkan pekerja-pekerja terampil.

Namun hal itu tidak boleh dijadikan dasar utama untuk melupakan tenaga kerja lokal di wilayah sekitar perusahaan maupun luar perusahaan sendiri.

“Ada aturan yang disepakati, harus ada pekerja lokal yang dimasukan. Ini juga menjadi masukan bagi pemda,” katanya.

Lebih lanjut Amirul Tamim menjelaskan informasi adanya TKA dan WNA yang menggunakan visa kunjungan dan paspor kadaluarsa seperti TKA PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) merupakan informasi menarik dan akan ditindak lanjuti di DPR RI.

“Kalau paspor berakhir kenapa tidak di deportasi. Ini informasi bagus dan saya akan tindaklanjuti secepatnya,” tegasnya.

Sehari sebelumnya, sejumlah mahasiswa di Kendari melakukan razia TKA dan menemukan TKA PT IMIP menggunakan paspor yang sudah berakhir. Dalam aksi itu, mahasiswa juga menemukan visa yang digunakan seorang TKA berupa visa kunjungan.

Aksi mahasiswa tersebut merupakn buntut dari kekesalan terhadap lemahnya pengawasan dari pihak Kantor Imigrasi Kendari. Pasalnya Kota Kendari merupakan salah satu pintu masuknya TKA di Sultra dan Sulteng. Terlebih lagi, Imigrasi Kendari sempat melakukan sidak di perusahaan di Konawe.

Penulis: Kamarudin
Editor: Zainal A. Ishaq

Facebook Comments
loading...