Sitti Aisyah Al-Fatih. (Dok. Pribadi)

Oleh : Sitti Aisyah Al-Fatih, SE
(Owner Rumah Jahit Aisyah)

Publik kembali dikejutkan dengan pernyataan Presiden Indonesia baru-baru ini, sebagaimana dilansir Kompas.com Presiden Joko Widodo meminta semua pihak agar memisahkan persoalan politik dan agama. Menurut Presiden, pemisahan tersebut untuk menghindari gesekan antarumat.

“Memang gesekan kecil-kecil kita ini karena pilkada, karena pilgub, pilihan bupati, pilihan wali kota, inilah yang harus kita hindarkan,” kata Presiden saat meresmikan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Jumat (24/3/2017). “Dipisah betul, sehingga rakyat tahu mana yang agama, mana yang politik,” imbuh Jokowi.

Pernyataan presiden itu membuat banyak pihak angkat bicara, salah satunya datang dari Pimpinan Rumah Amanat Rakyat (RAR) Ferdinant Hutahaean dengan mengatakan pernyataan Jokowi adalah sebuah pernyataan yang mengisaratkan bentuk dukungan pada seseorang yang telah berlaga dalam pilkada. “Saya paham kemana arah Presiden Jokowi dengan mengangkat pernyataan itu. Wajar, karena Jokowi adalah kader PDI Perjuangan yang saat ini mendukung Basuki Tjahaja Purnama sang terdakwa penodaan agama Islam menjadi Calon Gubernur Jakarta 2017-2022,” kata Ferdinand di Jakarta, Minggu (26/03/2017).

“Menjadi sangat lumrah pernyataan itu sebagai bentuk dukungan dan keberpihakan kepada Cagub PDIP tersebut,” imbuhnya. Justru menurutnya, yang menjadi tidak lumrah adalah ketika pernyataan itu disampaikan Jokowi dalam kapasitasnya sebagai Presiden.

Sistem Sekuler Memisahkan Peran Agama
Presiden Joko Widodo meminta semua pihak agar memisahkan persoalan politik dan agama. Menurut Presiden, pemisahan tersebut untuk menghindari gesekan antar umat, tentunya penyataan ini sangat di sayangkan datang dari seorang presiden negeri berpenduduk muslim terbesar dunia. pernyataan Jokowi ini mestinya tidak hanya dilihat sebagai dukungan secara tidak langsung kepada sala-satu calon yang berasal dari partai dimana ia bernaung tetapi ini adalah pernyataaan resmi seorang kepala negara untuk menegaskan indentitasnya sebagai seorang presiden tentunya ini akan berdampak pada kaum muslim.

Nampaknya pasca kasus penistaan QS. Al-maidah ayat 51 dengan serentetaan persidangan yang seolah sulit untuk dijadikan tersangka sebagai terdakwa si penista padahal bukti yang begitu nyata. Kejadian itu membuat umat islam semakin terdzalimi ditambah lagi ulama-ulama pengusung kebenaraan tidak luput dari kriminalisasi. penguasa kini menganggap umat islam jika merujuk pada islam akan menimbulkan gesekan, namun mereka seolah lupa bahwa umat muslim begitu luka akan penistaan agama yang di lakukan oleh Ahok, sejatinya kasus penistaan agama yang belum menghasilkan hasil yang dilakukan Ahoklah yang menimbulkan gesekan.

Semestinya presiden menyorot kasus ini untuk segera dituntaskan sebab lambannya penanganan akan membuat luka kaum muslim semakin menganga, alih-alih segera menyembuhkan luka malah menambah luka membuat suatu pernyataan yang seolah medukung si penista dan membelanya dengan pernyataan agama harus dipisahkan betul dengan politik.

Namun jika melihat dilain sisi, rentetan kasus penistaan agama yang melahirkan pernyataan pemisahakan agama dan politik secara terpisah total. Ini adalah dampak ketika sistem yang diterapkan memisahkan peran agama. Tentunya semua pihak telah menyadari sistem politik Indonesia saat adalah sekularisme yang dilihat dari fitrahnya sistem ini memang mengharuskan pemisahan agama dalam kehidupan termasuk tatanan politik. Sekulerisme tidaklah bermakna anti agama, tapi sekularisme melarang agama berperan dalam mengatur aspek kehidupan (ekonomi, politik, pemerintahan dll).

Sistem sekulerisme akan mendorong manusia memperbanyak aktifitas ritual seperti, shalat, dzikir, berhaji dan dll, tapi akan dihalangi ketika ingin mendudukkan Islam dalam politik dan pemerintahan seperti contoh islam melarang pepimpin kafir. Sebagai seorang muslim hendaknya menyadari bahwa sistem sekularisme yang diterapkan hari ini memang tidak layak untuk diambil sebab bertentangan dengan islam yang mengharuskan peran agama didalamnya secara kaffah.

Agama Dan Politik Bagaikan Saudara Kembar
Islam bukanlah sebatas agama tetapi harus dipahami bahwa islam adalah panduan hidup atau yang biasa disebut ideologi yang memiliki fikrah dan tariqah yang harus dijalankan. Selayaknya sebagai umat islam sadar bahwa agama khususnya islam tidak dapat dipisahkan dari kehidupan baik itu dikanca politik, sebagaimana perpolitikan kini yang akan bermuara pada siapa yang akan berkuasa dan dengan dasar apa ia berkuasa.

Selayaknya kaum muslim membuka kembali sejarah Indonesia mampu mengusir penjajah yang kemudian mengantarkan pada kemerdekaan itu disebabkan ada peran agama didalamnya. Sebagaimana perkataan Juru bicara HTI Ismail Yusanto´” agama tidak akan pernah bisa dipisahkan dari politik. Indonesia merdeka itu di antaranya justru karena pengaruh agama. Orang berani perang oleh karena dorongan agama, takbir itu dorongan agama, resolusi jihad itu dorongan agama. “Ini aneh, sampai ada presiden mengatakan seperti itu. Berarti dia tidak memahami sejarah dan tidak memahami peranan agama itu dalam politik di Indonesia,” bebernya.

Coba lihat dalam sejarah, lanjutnya, siapa yang paling berani menghadapi penjajah? Hari Pahlawan itu terjadi karena peristiwa Hotel Oranye. Itu semangat pemuda Surabaya melawan Belanda. Dengan semangat apa? Semangat jihad. Semangat jihad itu timbul karena ada Resolusi Jihad. Resolusi Jihad itu muncul karena pemahaman agama. Ada Pangeran Diponegoro, ada Imam Bonjol, ada Syarikat Islam, ada “Berkat Rahmat Allah” di dalam konstitusi. “Kata ‘Allah’ itu kan kata-kata agama, jadi bagaimana bisa-bisanya Presiden mengatakan agama dan politik itu harus dipisahkan. Agama itu harus hadir dalam politik. Sebab kalau agama itu tidak hadir dalam politik maka politik tidak punya kekuatan, tidak punya spririt!” mediaumat.com, Sabtu (25/3/2017)

Jauh sebelum Indonesia yang katanya mengalami gesekan antar umat yang dituding pencampuran agama adalah biangnya, selayaknya kita berkaca pada contoh kepemimpinan terbaik yang diakui dunia yakni kepemimpianan Rasulullah SAW, kepemimpinan Rasulullah mengambil agama secara total Al-quran dan As-sunnah benar-benar diterapkan disemua sendi kehidupan termasuk perpolitikan yang kemudian mengantarkan pada kesejahteraan dan kerukunan antara umat beragama sebab agama Islam sendiri telah menjamin hak-hak non muslim.

Selayaknya kaum muslim Indonesia memahami perkataan Imam Al-Ghazali “bahwa Agama dan kekuasaan adalah saudara kembar, agama adalah pondasi, negara adalah penjaganya, sesuatu tanpa pondasi pasti akan runtuh dan sesuatu tanpa penjaga pasti akan hilang”.

Jadi, jika ingin menghindari pergesekan antara umat beragama maka selayaknya memperkuat andil agama dalam perpolitikan bila mana perpolitikan tersebut akan mengarah pada kekuasaan dan kemudian menerapkan seluruh ajaran agama Islam dalam bingkai Negara Islam serta menjauhkan perpolitikan dengan cukong bukan malah agama yang dipermasalahkan. Wallahu a’lam bisshawab.

Facebook Comments
loading...