Nasir dan Marsih
Nasir bersama istrinya Marsih saat berbincang-bincang dengan wartawan. (KABARKENDARI/PANDI)

Kabarkendari.com– Ini bukan kisah sinetron. Kejadian ini benar-benar terjadi di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Setelah menabung selama 21 tahun, seorang penjual bakso keliling bernama Nasir, sebentar lagi mewujudkan impiannya menunaikan Rukun Islam yang ke-lima. Naik Haji ke Tanah Suci Mekah tahun ini.

Peluh yang menetes tak dihiraukan Nasir. Ia terus menyusuri lorong-lorong permukiman warga di Kelurahan Anduonohu. Di usianya yang telah senja, Nasir tak mau kalah dengan waktu. Ia terus mendorong gerobak baksonya hingga menempuh jarak berpuluh kilometer.

Nasir memang pantang menyerah. Tidak ada usaha yang sia-sia. Setelah 21 tahun berjualan bakso keliling, Sedikit demi sedikit penghasilannya dari berjualan bakso, disisihkan antara Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu setiap hari. Nasir segera mewujudkan impiannya naik haji.

Setelah mendaftar sejak 2009 silam tahun 2016 ini giliran Nasir naik Haji. Tahun ini, Namanya terdaftar dalam rombongan jemaah haji Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.  Bahkan sebelum dirinya, istrinya telah terlebih dahulu ia berangkatkan naik haji tahun 2010 silam. Semua biaya bersumber dari hasil jualan bakso.

“Alhamdulillah, selama 21 tahun menabung, bisa naik haji tahun ini,” ungkap Nasir saat ditemui di kediamannya, Lorong Cempedak, Jalan Gersamata, Kelurahan Anduonohu, Kecamatan Poasia, Kota Kendari pada Jumat 5 Agustus 2016.

Niatan naik haji ini, lanjut Nasir, sudah menjadi motivasi bersama istrinya sejak menikah 1995 silam. Selain itu, dorongan orang tua menjadi salah satu pemacu semangat untuk pergi ke tanah suci. Pesan orang tuanya, dengan naik haji, berkah akan selalu ada.

“Kita sudah niatkan memang. Baru selesai menikah langsung kita mulai menabung dari hasil jualan. Semua ini, tidak ada pendapatan dari tempat lain. Kita hanya bermodalkan jualan bakso,” katanya.

Nasir dan istrinya juga mengikuti arisan keluarga. Dari arisan itu pula, uang hasil jualan bakso ia tabung dan gulirkan hingga tiba gilirannya mendapat Rp 20 juta. Uang tersebut kemudian disetorkan ke bank sebagai uang muka naik haji. Sisanya sekitar Rp 19 juta, diperoleh lagi saat menyisihkan sebagian pendapatan selama tujuh tahun.

Dari usahanya berjualan bakso keliling, Nasir dan istrinya juga mampu menyekolahkan tiga orang anaknya. Anak ke-duanya Nirmawati kini duduk di kelas 2 SMA, Muhamad Haidir duduk di bangku SMP, dan Khalik Al-Walid duduk di bangku SD. Sementara si bungsu bernama Miftahul Janah usianya masih enam bulan.

“Kalau anak pertama Usman yang berusia 21 tahun tidak sekolah. Karena, anak saya sakit-sakit kepala. Saran dokter katanya tidak boleh dipaksa. Sehingga, anak pertama ini hanya sampai di SMP sekolahnya,” timpal Marsih.

Di Tanah Suci nanti, Nasir berharap dapat menyentuh Multazam, dan melafazkan doa-doanya. Memohon kepada sang Khalik agar usahanya selalu diberkahi dan keluarga yang ia sayangi selalu sehat wal afiat. Semoga menjadi haji yang mabrur.

Penulis: Pandi
Editor: Zainal A. Ishaq

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Facebook Comments
loading...