Pilrek UHO
Prof Barlian (memakai kopiah) Memberikan Keterangan Pers. (KABARKENDARI/KASMAN)

Kabarkendari.com – Belum juga sah menjadi pelaksana tugas (Plt) mengisi kekosongan jabatan Rektor Universitas Halu Oleo Kendari, Prof. Supriadi Rustad sudah menuai kecaman. Kecaman ini muncul dari Prof. Barlian. Menurut Guru Besar Sosiologi Pendidikan UHO ini, Prof. Supriadi Rustad tidak layak menjadi Plt Rektor UHO, alasannya saat ini Prof. Supriadi Rustad tidak menduduki jabatan struktural apapun di Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Ditemui di salah satu warung kopi ternama di Kendari, oleh jurnalis Kabarkendari.com, Minggu 27 Nopember 2016, Prof. Barlian memaparkan, berdasarkan aturan Badan Kepegawaian Negara (BKN) Nomor K.26-20/V.24-25/99 tentang Tata Cara Pengangkatan PNS Sebagai Pelaksana Tugas Poin e yang berbunyi PNS atau pejabat yang menduduki jabatan struktural hanya dapat diangkat sebagai Plt dalam jabatan struktural yang eselonnya sama.

“Atau setingkat lebih tinggi di wilayah kerjanya. Sementara jika dilihat, Prof. Supriadi Rustad ini tidak menduduki jabatan struktural di Kemenristekdikti. Jadi kalau mengacu pada aturan itu tidak bisa. Kalau misalkan benar dia (Prof. Supriadi Rustad,red) benar menjadi karateker atau Plt Rektor UHO, maka itu melanggar,” katanya, sambil menyeruput kopi hitamnya.

Barlian melanjutkan, berdasarkan penelusurannya Prof. Supriadi Rustad pernah menjabat Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Jabatan ini katanya setingkat Eselon II pada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan di era Menteri Prof. Muhammad Nuh. Jika dilihat lagi jabatannya saat ini yang menjabat sebagai Penasehat Akademik di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, tetap saja sama karena jabatan ini juga bukan jabatan struktural.

“Universitas Dian Nuswantoro ini kan perguruan tinggi swasta, jadi jika seorang wakil rektor universitas swasta ditunjuk sebagai Plt Rektor di universitas negeri, ini akan menjadi keanehan. Jika Profesor Supriadi Rustad adalah orang yang benar ditunjuk sebagai karetaker, maka hal ini keluar dari kelaziman,” jelasnya.

Ditambahkannya melihat pengalaman beberapa universitas yang ada, karetaker rektor yang ditunjuk oleh Kemenristekdikti biasanya adalah pejabat Eselon I di Kementerian tersebut. Contohnya kata Barlian, Dirjen Dikti Prof. Joko Santoso pernah menjadi karetaker Rektor Universitas Indonesia (UI), yang kala itu mengisi kekosongan posisi Rektor dari Prof. Gumilar Somantri. Contoh lain ada Prof. Jamal Wiwoho, Irjen Kemenristekdikti.

“Pak Jamal Wiwoho itu ditunjuk sebagai Plh Rektor Unima. Bahkan saat ini Universitas Trisakti, sebuah universitas swasta di Jakarta dinahkodai oleh Prof. Ali Ghufron, Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti (SDID). Ini jabatan Eselon I loh di Kemenristekdikti. Masa kita di UHO mau diisi oleh yang bukan Eselon I kan aneh ini,” paparnya.

Namun berdasarkan penelusuran Kabarkendari.com, Prof. Supriadi Rustad pernah menjabat sebagai Eselon I, diantaranya Dosen di Universitas Negeri Semarang, Kordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi, Pembantu Rektor I Universitas Negeri Semarang, Ketua Tim Evaluasi Kinerja Akademik Perguruan Tinggi, dan pernah menjadi Kandidat Rektor Universitas Negeri Semarang, sekarang Prof. Supriadi Rustad menjabat Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ditjen Dikti Kemdiknas RI (Data dikelola dari berbagai sumber).

Sayangnya, Barlian membantah data ini, katanya, Prof. Supriadi Rustad hanya menjabat Penasehat Akademik di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, dan tidak pernah menjabat dijabatan seperti yang disampaikan Kabarkendari.com.

Penulis: Kamarudin
Editor: Suwarjono

Facebook Comments
arminareka