imtsi sultra
Foto: Humas IMTSI

Kabarkendari.com – Pasca demo bela Islam beberapa waktu lalu, akhir-akhir ini diseluruh wilayah Indonesia khususnya di Sulawesi Tenggara sering terjadi demonstrasi dengan tema “Save NKRI”. Menanggapi hal ini selaku kaum muda di Indonesia, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Teknik Sipil Indonesia atau IMTSI, Muhammad Agus Safar mengatakan demonstrasi Save NKRI tersebut adalah demonstrasi yang reaksioner, tendensius dan gagal paham.

“Sekalipun demo tersebut bertujuan untuk mencegah ancaman perpecahan yang ditimbulkan di Indonesia namun menurut saya ini reaksioner, tendensius dan yang menggelarnya juga menurut saya gagal paham tentang keadaan bangsa ini,” katanya kepada Kabarkendari.com, Minggu 27 Nopember 2016 pagi di Kota Baubau sebelum menggelar kongres IMTSI.

Mengapa reaksioner? Menurut Agus Safar demo Save NKRI tersebut, muncul pasca demo bela Islam yang menuntut Basuki Cahya Purnama alias Ahok segerah ditetapkan tersangka dan ditahan atas kasus penistaan agama dan dugaan penghinaan Al-Quran. Seharusnya kata Agus Safar gerakan ini tidak perlu dilakukan jika hanya berpatokan karena demo bela Islam yang seakan memunculkan gerakan untuk memecah bela NKRI ini.

“Akibatnya apa, jika kita membangun gerakan save NKRI ini kita disebut sebagai pendukung Ahok inilah akibatnya seakan tendensius atau politis kita dianggap pendukung Ahok. Kita dianggap tidak senang dengan gerakan Islam yang memang marah karena agamanya dinistakan,” kata mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Halu Oleo ini.

Agus Safar sedikit memberikan gambaran jika ada lima gubernur seperti Ahok di Indonesia, yang terang-terangan menghina Islam, menurutnya akan lebih bahaya lima gubernur tersebut dibandingkan dengan 500 ribu umat Islam yang menggelar demo bela Islam. Karena kenapa? Agus Safar mengatakan ungkapan seorang kepala daerah bisa dijadikan sebuah produk kebijakan yang bisa menggiring opini bahwa daerah tersebut tidak senang dengan Islam.

“Ini gagal paham, karena kenapa memangnya demo bela Islam itu karena membenci agam lain atau suku lain, tidak seperti itu. Melainkan ratusan ribu umat Islam di Jakarta kemarin itu memang murni menuntut personal atau seseorang untuk ditangkap. Kita marah karena agama kita dihina itu saja,” jelasnya.

“Saya cuma mau bilang, mengatakan save NKRI itu tidak bisa dengan waktu lima menit atau hanya segelas kopi dan sebatang rokok. Tapi butuh waktu-waktu lama, kita harus membedah kasus mana yang bisa memecah NKRI ini. Bukan karena ada demo bela Islam kita juga buru-buru cerita sana sini terus bilang ayo demo save NKRI. Tidak begitu ini salah pemikiran,” tambahnya.

Olehnya itu dia mengatakan, selaku Ketua Umum IMTSI, semua mahasiswa yang tergabung dalam mahasiswa Teknik Sipil bisa menahan diri dan tidak gampang masuk perangkap yang dia anggapnya politis. Namun dirinya tidak melarang bagi mahasiswa teknik sipil yang mau mengikuti demo save NKRI tersebut.

Penulis: Kamarudin
Editor: Suwarjono

Facebook Comments
arminareka